Posts filed under 'Kesenian'

Gembyung

 

Gembyung

Salah satu peninggalan budaya Islam di Cirebon adalah Seni Gembyung. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian Terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Konon kesenian terbang itu salah satu jenis kesenian yang dipakai sebagai media penyebaran Agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Entah siapa yang punya ide untuk mengembangkan seni terbang ini dan kapan. Yang jelas kesenian Gembyung muncul di daerah Cirebon setelah kesenian terbang hidup cukup lama di daerah tersebut.

Gembyung adalah ensambel musik yang terdiri dari beberapa waditra terbang dengan tarompet yang merupakan jenis kesenian bernafaskan Islam. Meskipun demikian, di lapangan ditemukan beberapa kesenian Gembyung yang tidak menggunakan waditra tarompet.

Setelah berkembang menjadi Gembyung, tidak hanya dipertunjukkan di lingkungan pesantren atau tempat-tempat ibadah agama Islam, tetapi dipertunjukkan juga di lingkungan masyarakat luas. Bahkan frekuensi pertunjukannya cenderung lebih banyak di lingkungan masyarakat. Demikian juga tidak hanya dipertunjukan dalam acara-acara keagamaan (Islam), tetapi juga dalam acara kelahiran bayi, khitanan, perkawinan dan upacara siklus alam seperti ngaruat bumi, minta hujan, mapag Dewi Sri, dsb. Pada perkembangan lebih lanjut, Gembyung tidak hanya sebagai seni auditif, tapi sudah menjadi seni pertunjukan yang melibatkan unsur seni lain seperti seni tari.

Di beberapa daerah wilayah Cirebon, kesenian Gembyung telah dipengaruhi oleh seni tarling dan jaipongan. Hal ini tampak dari lagu-lagu Tarling dan Jaipongan yang sering dibawakan pada pertunjukan Gembyung. Kecuali Gembyung yang ada di daerah Argasunya, menurut catatan Abun Abu Haer, seorang pemerhati Gembyung Cirebon sampai saat ini masih dalam konteks seni yang kental dengan unsure keislamannya. Ini menunjukkan masih ada kesenian Gembyung yang berada di daerah Cirebon yang tidak terpengaruh oleh perkembangan masyarakat pendukungnya. Kesenian Gembyung seperti ini dapat ditemukan di daearah Cibogo, Kopiluhur, dan Kampung Benda, Cirebon. Orang-orang yang berjasa dalam mempertahankannya adalah Musa, Rasyim, dan Karya.

Alat musik kesenian Gembyung Cirebon ini adalah 4 buah kempling (kempling siji, kempling loro, kempling telu dan kempling papat), Bangker dan Kendang. Lagu-lagu yang disajikan pada pertunjukan Gembyung tersebut antara lain Assalamualaikum, Basmalah, Salawat Nabi dan Salawat Badar. Busana yang dipergunakan oleh para pemain kesenian ini adalah busana yang biasa dipakai untuk ibadah shalat seperti memakai kopeah (peci), Baju Kampret atau kemeja putih, dan kain sarung.


1 comment 1 Juni, 2008

Alat-alat musik Penunjang Perkembangan Musik Indonesia

Sejarah Musik Indonesia dalam percaturan Internasional dimulai dari masuknya agama Kristen di Indonesia sekitar 450 tahun yang lalu dimana penyerbarannya dimulai dari Sumatera Utara. Jauh setelah itu barulah agama Kristen masuk dan berkembang dengan kukuh, justru dari Halmahera. Tidaklah mengherankan apabila musik-musik gerejani tumbuh dengan baik disekitar daerah perintis tersebut.

Tetapi perdagangan para Gujarat dan pertemuan dengan Tiongkok ternyata membuahkan pertemuan  kebudayaan tersendiri yang menyangkut pula bidang seni musik. Bersamaan dengan masuknya Islam di Indonesia, masuk pula unsur kebudayaan Islam beserta seni musiknya.

Bangsa Portugis, bangsa Inggris dan bangsa Belanda telah pula membawa pengaruh kebudayaan, termasuk didalamnya pengetahuan dan peralatan musik.

Disamping itu, alat musik tradisional berkembang dengan baik di Indonesia,terutama di pulau Jawa yang telah mengenal dan mengembangkan tangga nada Pentatonik Khas Jawa-Bali yang tidak terdapat dinegara lain. Kisah Ramayana yang datang dari pengaruh Hindu di Jawa-Bali menjadi legenda pewayangan disamping kisah Mahabharata yang penampilannya selalu diiringi dengan seperangkat alat musik Gamelan.

 

Alat Musik dari bangsa dan kebudayaan pendatang :

            1.         Gitar, Ukulele, Hawaian-Gitar.

            2.         Violine, Viola, Violoncello, Contra-Bass.

            3.         Trumpet dan alat tiup logam lainnya.

            4.         Flute (Querflote) dan Ficcolo.

            5.         Clarinet dan alat tiup kayu lainnya.

            6.         Hatong (Cirebon) sejenis Pan-Pipe dari Tiongkok.

            7.         Keladi (Kalimantan) sejenis alat musik Sheng dari Tiongkok.

            8.         Terbang, Tambourine, Rebana dari pengaruh Islam.

            9.         Dll.

 

Gamelan sebagai alat musik tradisional Indonesia :

            1.         Alat musik berdawai/bersenar,Tali gesek : Rebab, Tali petik : Celempung,                        Kecapi.

            2.         Alat musik tiup-Seruling dan Sronen.

            3.         Alat musik pukul - Membranophone - Kendang, Beduk, Terbang.

            4.         Alat musik pukul kayu - Gambang dan Calung.

            5.         Alat musik pikul logam - Saron, Bonang, Gong,Gender dsb.

 

Apabila disimak lebih jauh lagi, ternyata hampir diseluruh wilayah Indonesia terdapat perangkat Gamelan dengan kombinasi perlengkapan yang bervariasi. Perangkat gamelan dari Batak, Minangkabau, Toraja, Buton, Maluku, Kalimantan dll.Tidaklah selengkap gamelan yang ada di Jawa - Bali sebagai pusat penyebaran kebudayaan yang tertua di Indonesia. Kombinasi penggunaan alat musik Tradisional dengan alat musik kaum pendatang banyak kita jumpai dewasa ini di Indonesia.

 

Orkes Melayu Deli (Sumatera Utara, Jambi, Palembang, Riau, Minangkabau) mempergunakan kombinasi Kendang dan Gong yang dipertemukan dengan Biola atau Accordeon.Lebih jauh dari berkembang lagi dengan penggunaan alat musik melody lainnya sehingga menjadi sebuah Big Band dengan ciri sentuhan kendangnya yang khas. Bahkan unsur Kendang Hindustan (Tabla) yang telah membentuk corak baru yang akhirnya terkenal dengan istilah “ Dangdut”,nama ejakan yang kemudian menjadi kelaziman.

Kolintang tradisional di Sulawesi Utara dan Maluku ini telah ditala sebagai mana lazimnya sebuah Xylophone atau Marimba, tetapi nama aslinya tidak berubah.

Calung di Jawa ditala dengan tangga nada Kromatik berbentuk Xylophone, sebagai mana juga Angklung dewasa ini telah ditala bahkan lebih terkenal dengan susunan Kromatik, dihimpun dalam permainan bersama dengan nama Akronim : Arumba yang merupakan singkatan dari Alunan Rumpun Bambu.

Pola - ritme kendang tradisional telah masuk dalam penghayatan irama keroncong, dinyatakan dengan petikan Cello yang tidak terdapat dalam kamus musik Barat. Suara kemanakan yang merupakan alat musik khas budaya Ketawang dalam rangkaian lagu keroncongLanggan Jawa diwujudkan dengan petikan Banjo atau senar tunggal Ukullele.

Lagu-lagu Rakyat (Folk-Song) daerah seluruh Indonesia selalu tidak melupakan alat musik Gitar didalam penampilannya. Bahkan dalam penyajian lagu-lagu Irian dalam pakaian tradisional juga sudah mengikut setakan gitar yang kontradiktif dalam penampilannya, tapi serasi dalam penyajian musikal.

Peranan Celempung atau siterdalam orker Keroncong telah dibebankan pada alat musik Gitar yang tidak terdapat pada musik Barat walaupun dalam kenyataannya tidak lebih dari permainan dengan teknik broken-Chords atau Arpeggio.

Orkes Keroncong asli dalam langgan Jawa adalah merupakan bentuk baru dari pertemuan musik Barat dengan musik Tradisional Indonesia, dalam hal ini merupakan suatu sintesa dari dua sumber kebudayaan dan merupakan pengejawantahan Gamelan Jawa kepanggung Instrumentasi Barat .

Dari perangkat kerja tradisional kita jumpai permainan lengsung penumbuk padi oleh beberapa orang yang dikenal dengan nama Kotekan (Jawa).Dibeberapa daerah dikenal pula dengan nama Alee - Tunjang (Aceh), gendong, gondang dsb.

Para petugas ronda memainkan kentongan dengan berbagai irama pukulan sehingga menimbulkan orkes - kentongan. Di Jawa Timur bahkan merupakan Gamelan Lengkap. Banyak alat tradisionalnya diangkat dari perangkat alat kerja sehari-hari seperti : Goangan,Tudung Punduk, Caping Buyuk dsb.


Add comment 1 Juni, 2008

Pertunjukan Kesenian Tradisi Cirebon Memukau

Pertunjukan kesenian asli Cirebon, Jawa Barat, yang ditampilkan di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran Bandung, Kamis (4/9), mampu memukau penonton. Kesenian tradisional yang nyaris punah tersebut membuat penonton nyaris tak beranjak dari tempat duduknya.

“Mimi, narinya bagus sekali, boleh enggak saya belajar?” kata seorang mahasiswi Unpad kepada seniman tari topeng asal Indramayu, Mimi Rasinah (75), seusai pertunjukan.

Rektor Unpad Himendra Wargadibrata yang ditemui seusai pertunjukan mengatakan, pertunjukan kesenian asal Cirebon itu merupakan bagian dari perayaan Dies Natalis ke-46 Unpad. Pihaknya sengaja mengundang para seniman Cirebon untuk melestarikan dan memperkenalkan kesenian itu pada masyarakat.

“Selain itu, kesenian merupakan salah satu jembatan komunikasi dengan pihak luar di luar bidang akademik. Kalau melalui teknologi, Indonesia mungkin kalah jauh dengan luar negeri. Jadi sekarang dicoba melalui kesenian untuk mengharumkan nama bangsa,” kata Himendra.

Pergelaran kesenian tradisional tersebut bukan yang pertama di Unpad. Kesenian tradisional lain yang pernah tampil di Unpad adalah kesenian Banten, seperti debus dan dog dog lonjor.

Pertunjukan kesenian tradisional Cirebon dibuka dengan penampilan topeng Kelana dari Cirebon. Setelah itu disusul sintren, tari topeng samba dan rumyang, topeng tumenggung dan kelana, tayuban, topeng beling, serta genjring debus.

Tari topeng samba dan rumyang ditampilkan oleh maestro tari topeng asal Slangit, Cirebon, Sujana Ardja (68). Topeng tumenggung dan kelana ditarikan pakar tari topeng asal Pekandang, Indramayu, Mimi Rasinah.

Penampilan dua maestro tari topeng tersebut mengundang decak kagum penonton. Kedua penari berusia lanjut tersebut menarikan tarian topeng dengan apik dan penuh penjiwaan.

“Tapi sekarang cepat capek, soalnya tenaga enggak kayak dulu lagi. Apalagi kalau nari topeng Panji, wah itu capek sekali. Memang gerakannya lebih banyak diam, yang membuat capek adalah pengaturan napasnya,” kata Mimi Rasinah.

Pertunjukan kesenian Cirebon tersebut ditampilkan maraton di dalam dan di luar gedung. Untuk pertunjukan di luar Graha Sanusi Hardjadinata ditampilkan dua jenis kesenian, yakni Topeng Beling dan Genjring Debus yang membuat penonton berteriak ngeri. Penari topeng yang kesurupan menari di atas pecahan kaca, sedangkan pada Genjring Debus badan pemain ditusuk jarum panjang dan dipukul balok kayu.


Add comment 1 Juni, 2008

Alat Musik Tradisional Aceh

Pendahuluan
Kesenian merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan universal. Kebudayaan merupakan “Keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu”. Itu berarti bahwa kesenian juga merupakan hasil budi dan karya manusia.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia kesenian berarti perihal seni atau keindahan. Kesenian berasal dari kata dasar seni. Kata seni merupakan terjemahan dari bahasa asing “Art” (bahasa Inggris) istilah “Art” sendiri sumbernya berpangkal dari bahasa Itali, yaitu “arti”. Perkataan “arti” ini dipergunakan pada zamannya untuk menunjukkan nama sesuatu benda hasil kerajinan manusia pada masa perkembangan kebudayaan eropa klasik, yaitu pada zaman yang dinamakan orang dengan sebutan Renaissance di Italia. Dari “arti” menjadi “art”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi seni. Selalu dihubungkan dengan perasaan keindahan.

Seni adalah sesuatu yang indah yang dihasilkan manusia, penghayatan manusia melalui penglihatan, pendengaran dan perasaan. Seni merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung jiwa seseorang, dilahirkan dengan perantaraan alat-alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), penglihat (seni lukis) atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama). Namun yang akan dibahas lebih lanjut yaitu berhubungan dengan seni suara khusus “seni musik”

Pengertian Musik
Istilah Musik berasal dari kata Mousal dari bahasa Yunani, yaitu sembilan dewi yang menguasai seni, seni murni dan seni pengetahuan. Tetapi, umumnya musik selalu dikaitkan dengan sejumlah nada yang terbagi dalam jarak tertentu.Dalam istilah masa kini ada 2 jarak yaitu Diantoni dan Pentagonis.

Dalam tulisan ini mencoba menjelaskan dan memaknai alat musik dari nada dengan jarak Pentagonis yaitu : yang memiliki nada lima jenis bunyi yang kedengarannya seolah-olah alamiah, maka ia menjadi salah satu ciri khas bunyi instrument tradisional, yang alatnya terbuat dan terbentuk dari bahan yang tersedia di alam sekitarnya, seperti kayu, bambu, logam, tanduk, kulit hewan dan lain sebagainya.

Perkembangan Musik
Dalam sejarah kehidupan manusia, musik merupakan bagian yang hidup dan berkembang sejalan dengan perkembangan manusia itu sendiri.

Musik oleh manusia dijadikan sebagai media untuk menuturkan sesuatu dari dalam jiwanya yang tidak mampu dibahasakan melalui bahasa konvensional. Seni musik merupakan bagian dari proses kreatif manusia dalam mengolah bunyi-bunyian yang tercipta oleh alam. Unsur bunyi alam seperti suara unggas, denting kayu, gesekan bambu, rintik hujan dan sebagainya, diolah ke dalam bentuk instrumen musik yang tercipta dari tingkat ketrampilan dan pemahaman seniman tentang keselarasan bunyi instrumen dengan ritme kehidupan alam lingkungan sekitarnya.

Asal-usul tentang bunyi instrumen musik menurut para ahli dilahirkan dari segala upaya manusia meniru suara alam. Usaha manusia dalam keadaan seseorang diri terekam dalam kondisi lingkungannya yang diam, sepi dan membungkam. Saat itu manusia merasakan kekosongan bathin dan kesendirian dirinya. Suasana ini dapat terjadi ketika berada di kebun malam hari, dalam perjalanan, menghadapi masalah pelik, berada dalam transisi jenjang kehidupan biologis, harga diri yang terluka, kedukaan dan suasana spikologis lainnya.

Lahirnya musik tradisional tidak secara spontan. Bunyi-bunyian tercipta dari upaya manusia dalam meniru suara alam, suara bintang, kicauan burung, desau angin dari gesekan yang terjadi dari dalam pohon dan sebagainya. Dengan latar belakang penciptaan yang sama, beberapa alat musik yang tercipta memiliki banyak kesamaan, baik dari bahan, cara pembuatan, bentuk dan cara memainkannya. Kesamaan instrumen yang dihasilkan menunjukkan adanya kontak antar kelompok masyarakat.

Sementara itu menurut Curt Sach, tumbuh dan berkembangnya suatu musik melalui proses evaluasi. Musik yang paling tua sekali adalah berbentuk tepukan-tepukan pada anggota badan manusia. Untuk membedakan warna bunyinya mereka menepukkan tangannya ke bagian perut dengan mengembungkan dan mengecilkan perutnya. Perkembangan selanjutnya, manusia melalui musik menggunakan bahan-bahan kayu dan bambu sebagai alat musik.

Musik terdapat dalam setiap kebudayaan. Musik pada awalnya juga dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan sakral dan upacara-upacara yang berhubungan dengan kepercayaan dan adat. Musik dipergunakan sebagai sarana untuk membangkitkan semangat, menyemarakkan suasana, mengiringi gerak tari dan sebagai media kesurupan (trance).

Di daerah-daerah seperti Sumatera, Jawa, Bali serta beberapa daerah lainnya musik dipergunakan untuk penobatan raja, menyambut tamu kehormatan, pemberangkatan perang, perayaan kemenangan dan lain-lain.

Pada perkembangan selanjutnya, seni musik juga berkembang sebagai bentuk seni pertunjukan dengan sasaran hiburan semata-mata. Sedangkan pemanfaatnya ada yang semata-mata untuk tujuan menghasilkan bunyi-bunyian, sebagai tanda tertentu ataupun sebagai pengiring lagu, syair dan tari.Musik Alat musik ini dalam menghasilkan bunyi dipraktekkan dengan ditiup, dipukul, digesek dan dipetik.
Di sumatera, musik tradisional juga dipengaruhi oleh unsur-unsur kebudayaan Arab dan Barat. Sebagai contoh, setelah datangnya pengaruh Arab muncul kesenian yang menggunakan rebana dengan menyenandungkan syair-syair keagamaan. Kemudian berkembang musik gambus untuk mengeringi lagu-lagu, tari maupun instrumental. Musik gambus ini selain menggunakan alat musik petik, juga dimainkan alat-alat musik lain seperti gendang, seruling, juga menggunaka biola, terompet dan accordion yang merupakan pengaruh barat.

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebagaimana provinsi lainnya di Indonesia merupakan salah daerah yang kaya akan kebudayaan. Sejarah telah membuktikan semenjak adanya kerajaan-kerajaan kecil di masa silam sampai Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya hingga dewasa ini Aceh tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaannya bahkan nilai-nilai budaya ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh.

Walaupun musik tradisional masih tetap dipelihara, dikembangkan dan dipegelarkan oleh pencinta dan pendukung-pendukungnya sampai dewasa ini namun tidak mungkin akibat penetrasi unsur-unsur luar/kebudayaan luar, nilai-nilai budaya Aceh akan menjadi suram ataupun mungkin menjauh/menghilang dalam masyarakat.

Oleh karena itu dalam tulisan ini mencoba menginventaris kembali serta memperkenalkan alat-alat musik tradisional Aceh yang masih eksis maupun yang hampir punah untuk dikembangkan kembali serta dihayati karena ini merupakan suatu warisan yang harus tetap dijaga dan dipelihara kelestariannya. yang nantinya bisa bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.

amiiiinnnnnnn….. ken nyoe meunan rakan… man alat musik jih kiban dilee…

jangan panik……. lets do it

Jenis-Jenis Alat Musik Di NAD

Arbab
Instrumen ini terdiri dari 2 bagian yaitu Arbabnya sendiri (instrumen induknya) dan penggeseknya (stryk stock) dalam bahasa daerah disebut : Go Arab. Instrumen ini memakai bahan : tempurung kelapa, kulit kambing, kayu dan dawai.

Musik Arbab pernah berkembang di daerah Pidie, Aceh Besar dan Aceh Barat. Arbab ini dipertunjukkan pada acara-acara keramaian rakyat, seperti hiburan rakyat, pasar malam dsb. Sekarang ini tidak pernah dijumpai kesenian ini, diperkirakan sudah mulai punah. Terakhir kesenian ini dapat dilihat pada zaman pemerintahan Belanda dan pendudukan Jepang.

Bangsi Alas
Bangsi Alas adalah sejenis isntrumen tiup dari bambu yang dijumpai di daerah Alas, Kabupeten Aceh Tenggara. Secara tradisional pembuatan Bangsi dikaitkan dengan adanya orang meninggal dunia di kampung/desa tempat Bangsi dibuat. Apabila diketahui ada seorang meninggal dunia, Bangsi yang telah siap dibuat sengaja dihanyutkan disungai. Setelah diikuti terus sampai Bangsi tersebut diambil oleh anak-anak, kemudian Bangsi yang telah di ambil anak-anak tadi dirampas lagi oleh pembuatnya dari tangan anak-anak yang mengambilnya. Bangsi inilah nantinya yang akan dipakai sebagai Bangsi yang merdu suaranya. Ada juga Bangsi kepunyaan orang kaya yang sering dibungkus dengan perak atau suasa.

Serune Kalee (Serunai)
Serune Kalee merupakan isntrumen tradisional Aceh yang telah lama berkembang dan dihayati oleh masyarakat Aceh. Musik ini populer di daerah Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar dan Aceh Barat. Biasanya alat musik ini dimainkan bersamaan dengan Rapai dan Gendrang pada acara-acara hiburan, tarian, penyambutan tamu kehormatan. Bahan dasar Serune Kalee ini berupa kayu, kuningan dan tembaga. Bentuk menyerupai seruling bambu. Warna dasarnya hitam yang fungsi sebagai pemanis atau penghias musik tradisional Aceh.

Serune Kalee bersama-sama dengan geundrang dan Rapai merupakan suatau perangkatan musik yang dari semenjak jayanya kerajaan Aceh Darussalam sampai sekarang tetap menghiasi/mewarnai kebudayaan tradisional Aceh disektor musik.

Rapai
Rapai terbuat dari bahan dasar berupa kayu dan kulit binatang. Bentuknya seperti rebana dengan warna dasar hitam dan kuning muda. Sejenis instrumen musik pukul (percussi) yang berfungsi pengiring kesenian tradisional.

Rapai ini banyak jenisnya : Rapai Pasee (Rapai gantung), Rapai Daboih, Rapai Geurimpheng (rapai macam), Rapai Pulot dan Rapai Anak.

Geundrang (Gendang)
Geundrang merupakan unit instrumen dari perangkatan musik Serune Kalee. Geundrang termasuk jenis alat musik pukul dan memainkannya dengan memukul dengan tangan atau memakai kayu pemukul. Geundrang dijumpai di daerah Aceh Besar dan juga dijumpai di daerah pesisir Aceh seperti Pidie dan Aceh Utara. Fungsi Geundrang nerupakan alat pelengkap tempo dari musik tradisional etnik Aceh.

Tambo
Sejenis tambur yang termasuk alat pukul. Tambo ini dibuat dari bahan Bak Iboh (batang iboh), kulit sapi dan rotan sebagai alat peregang kulit. Tambo ini dimasa lalu berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menentukan waktu shalat/sembahyang dan untuk mengumpulkan masyarakat ke Meunasah guna membicarakan masalah-masalah kampung.

Sekarang jarang digunakan (hampir punah) karena fungsinya telah terdesak olah alat teknologi microphone.

Taktok Trieng

Taktok Trieng juga sejenis alat pukul yang terbuat dari bambu. Alat ini dijumpai di daerah kabupaten Pidie, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lainnya. Taktok Trieng dikenal ada 2 jenis :

Yang dipergunakan di Meunasah (langgar-langgar), dibalai-balai pertemuan dan ditempat-tempat lain yang dipandang wajar untuk diletakkan alat ini.
jenis yang dipergunakan disawah-sawah berfungsi untuk mengusir burung ataupun serangga lain yang mengancam tanaman padi. Jenis ini biasanya diletakkan ditengah sawah dan dihubungkan dengan tali sampai ke dangau (gubuk tempat menunggu padi di sawah).

Bereguh
Bereguh nama sejenis alat tiup terbuat dari tanduk kerbau. Bereguh pada masa silam dijumpai didaerah Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara dan terdapat juga dibeberapa tempat di Aceh. Bereguh mempunyai nada yang terbatas, banyakanya nada yang yang dapat dihasilkan Bereguh tergantung dari teknik meniupnya.
Fungsi dari Bereguh hanya sebagai alat komunikasi terutama apabila berada dihutan/berjauhan tempat antara seorang dengan orang lainnya. Sekarang ini Bereguh telah jarang dipergunakan orang, diperkirakan telah mulai punah penggunaannya.

Canang
Perkataan Canang dapat diartikan dalam beberapa pengertian. Dari beberapa alat kesenian tradisional Aceh, Canang secara sepintas lalu ditafsirkan sebagai alat musik yang dipukul, terbuat dari kuningan menyerupai gong. Hampir semua daerah di Aceh terdapat alat musik Canang dan memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda-beda.

Fungsi Canang secara umum sebagai penggiring tarian-tarian tradisional serta Canang juga sebagai hiburan bagi anak-anak gadis yang sedang berkumpul. Biasanya dimainkan setelah menyelesaikan pekerjaan di sawah ataupun pengisi waktu senggang.

Celempong
Celempong adalah alat kesenian tradisional yang terdapat di daerah Kabupaten Tamiang. Alat ini terdiri dari beberapa potongan kayu dan cara memainkannya disusun diantara kedua kaki pemainnya.

Celempong dimainkan oleh kaum wanita terutama gadis-gadis, tapi sekarang hanya orang tua (wanita) saja yang dapat memainkannnya dengan sempurna. Celempong juga digunakan sebagai iringan tari Inai. Diperkirakan Celempong ini telah berusia lebih dari 100 tahun berada di daerah Tamiang.

Keanekaragaman alat musik tradisional yang terdapat di Aceh merupakan salah satu identitas dari masyarakat Aceh. Oleh karena itu menjadi tugas masyarakat Aceh untuk tetap dijaga, dipelihara kelestariannya. sehingga tidak menjadi punah.

Hal ini tentunya juga peran dari pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait untuk mendukung dan bersama-sama memperkenalkan kepada generasi muda betapa tingginya nilai-nilai budaya bangsa yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu. Serta juga sebagai salah satu daya tarik wisata bagi wisatawan Nusantara dan manca Negara untuk dapat lebih mengenal adat dan seni budaya daerah Aceh.

banyak dari masyarakat geutanyoe gak tau gimana bentuk nya nah moga ber manfaat … han ek ta khem hahahahahaha.


4 comments 10 Mei, 2008

Pameran Produk Indonesia Terbesar di Eropa Dibuka

Pameran Produk Indonesia serta Promosi Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia yang dilakukan kali ini merupakan pameran terbesar yang pernah dilakukan di luarnegeri.

Pameran bertitel resmi The 1st Indonesian Expo in Central and Eastern Europe (IE-CEE) di Warsawa itu telah dibuka pada 7/5/2008 oleh Wakil Perdana Menteri merangkap Menteri Ekonomi Polandia Waldemar Palwak dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mohammad Lutfi mewakili Presiden RI.

Hadir dalam pembukaan tersebut Duta Besar RI untuk Polandia Hazairin Pohan, Dirjen Amerika dan Eropa Deplu Retno Marsudi, Ketua BPEN Bachrul Chairi, serta kepala perwakilan RI dari wilayah Eropa dan Afrika.

“Kita sudah melangkah membangun jembatan. Langkah itu sudah kita tempuh lebih
dari seribu mil. Indonesia memiliki kedekatan politik dengan semua negara Eropa. Kedekatan politik itu harus menjadi kedekatan ekonomi, dan expo ini merupakan sebagian perwujudan itu,” demikian Dirjen Amerika dan Eropa Deplu Retno Marsudi dalam pembukaan expo, seperti dituturkan Korfungsi Pensosbud KBRI Brussel PLE Priatna langsung dari Media Center Expo Warsawa kepada detikFinance, Jumat (8/5/2008).

Melalui pameran ini masyarakat dan dunia usaha dari Polandia dan wilayah Eropa lainnya memperoleh kesempatan untuk lebih dekat mengenal produk Indonesia. Pameran akan berlangsung dari tanggal 7-10/5/2008, diikuti oleh 144 peserta pameran dari berbagai sektor dunia usaha Indonesia, BUMN dan lembaga pemerintah.

Pada kesempatan ini ditampilkan berbagai produk unggulan Indonesia seperti kerajinan, furnitur, perhiasan, kosmetik, spa, produk makanan, produk pertanian, produk alas kaki dan kulit, produk perikanan, elektronik dan permesinan, tekstil dan garmen, produk plastik dan gelas, kertas dan peralatan kantor serta berbagai jenis produk lainnya.

Dalam berbagai rangkaian kegiatan dalam pameran produk dan promosi budaya dan pariwisata Indonesia ini telah dilaksanakan Joint Seminar on Investment and Opportunities, Seminar on Indonesian Tourism, Seminar on Business Opportunities in Indonesia, Seminar on Indonesian Skilled Workers, serta gala dinner yang menampilkan seni budaya Indonesia.

Sepanjang berlangsungnya kegiatan ini setiap hari pada pukul 10.00-18.00, para pengunjung dimanjakan dengan penyajian pentas seni budaya Indonesia yang melibatkan 120 orang dari 14 tim kesenian dari Indonesia maupun partisipas beberapa perwakilan Indonesia di kawasan Eropa.

Kegiatan ini mendapat sambutan yang cukup hangat yang ditandai dengan banyaknya jumlah pengunjung pada hari pertama kegiatan pameran dan buyers dari berbagai negara di kawasan Eropa dan Afrika.

Wakil Perdana Menteri Polandia menyampaikan terima kasih dengan dipilihnya Polandia sebagai tempat dilaksanakannya Expo Indonesia pertama di Eropa ini dan Polandia menyambut baik peluang untuk menjalin hubungan ekonomi yang lebih erat di masa-masa mendatang.


Add comment 10 Mei, 2008

Dinilai Tepat, Expo Indonesia di Warsawa

Wakil Perdana Menteri Polandia  Waldemar Pawlak menyampaikan penghargaan dengan dipilihnya Warsawa sebagai tempat penyelenggaraan Expo Indonesia yang pertama kalinya di Eropa yang dinilainya sangatlah tepat.

     Penilaian itu disampaikan Waldemar Pawlak pada acara pembukaan Expo Indonesia di Warsawa, Polandia, Rabu (7/5), ditandai dengan pengguntingan pita disaksikan Kepala BKPM Muhammad Lutfi yang mewakili Presiden RI serta Dubes RI untuk Polandia Hazaiirn Pohan.

     Lebih lanjut Waldemar Pawlak, mengatakan sangat penting bagi Indonesia memandang Polandia  sebagai regional dari sebelas Negara Eropa Tengah lainnya, karena Polandia merupakan negara yang cukup luas dengan penduduknya yang berjumlah sebanyak 160 juta.

     Dikatakannya gabungan Negara Eropa Tengah sama besarnya bila dibandingkan dengan  Negara Rusia. Untuk itu, katanya, sangat tepat dipilihnya Polandia sebagai tempat penyelenggaraan pameran dagang, investasi, dan pariwisata tersebut.

     Pada kesempatan itu Waldemar Pawlak juga menjelaskan mengenai sumber daya alam yang dimiliki oleh Polandia seperti batubara yang dalam era globalisasi sangat tepat untuk melanjutkan dan mengefisienkan kerja sama antar negara dunia.

     Untuk itu diharapkannya kerjasama yang telah terjalin selama ini tidak saja di bidang ekonomi dan perdagangan tetapi juga kebudayaan dan diharapkannya dengan diselenggarakannya Expo Indonesia ini akan terjalin kerja sama yang lebih erat lagi diantara kedua negara. 

     Expo Indonesia yang perupakan pameran dagang, investasi, dan pariwisata Indonesia di wilayah Eropa Tengah dan Timur untuk pertama kalinya merupakan kerja sama sembilan duta besar RI, diprakarsai oleh Dubes RI di Polandia Hazairin Pohan.

     Sebelumnya Kepala BKPM Muhammd Lutfi yang mewakili Presiden saat membuka Expo Indonesia itu mengajak pengusaha Polandia untuk menjalin kerja sama dengan rekanan dari Indonesia dan diharapkan para pengusaha dari Polandia juga bisa berkunjung ke Indonesia dan melihat peluang yang ada.

     Muhammad Lutfi juga mengharapkan penyelenggaraan pameran dagang dan investasi ini tidak hanya sekali saja, tetapi juga diikuti dengan pameran lainnya, baik yang diadakan di Warsawa atau di Indonesia.

     Sementara itu Dutabesar RI di Polandia Hazaiirn Pohan meyebutkan bahwa pameran yang diadakan digedung Expo Center 21 Warsawa itu diikuti 100 perusahaan dari Indonesia dengan 20 biro perjalanan berlangsung hingga 10 Mei, antara lain diisi dengan seminar dan bisnis meeting antara pengusaha Indonesia dan Polandia.

     Expo Indonesia yang dipersiapkan sejak setahun lalu bertemakan Brindging  the Distance itu, juga dimeriahkan dengan penampilan kesenian Indonesia serta acara Gala Dinner di Hotel Hilton. 


Add comment 10 Mei, 2008

Generasi muda dapat pencerahan soal batik

Himpunan Ratna Busana, pelestarian busana tradisional Indonesia, memberikan pencerahan kepada generasi muda tentang batik yang berkembang pada dekade 1960-1980-an.

Pada acara itu dibahas karya dari lima seniman batik tulis. Mereka itu adalah Go Tik Swan, Ibu Sud, Iwan Tirta, Nora Gunawan dan Setyowati.

Pencinta batik Neneng Alamsyah mengatakan batik karya Go Tik Swan Hardjonagoro memadukan motif gaya klasik Surakarta, Yogyakarta dan pesisiran dikenal sebagai Batik Indonesia yang terinspirasi dari perintah Bung Karno waktu itu.

Neneng mengatakan batik karya Go itu pada waktu Presiden Bung Karno dikenal sebagai Batik Indonesia yang menggabung motif keraton dan warna pesisiran sehingga dapat diterima oleh semua kalangan.

“Batik Indonesia juga menggabungkan dari rasa persatuan, rasa nasionalisme dan rasa romantisme sesuai dengan kehendak dari inspirator,” kata Neneng pada acara talkshow batik tahun 1960-80-an yang diadakan Himpunan Ratna Busana itu.

Menurut dia, untuk melestarikan batik jangan berupaya menurunkan mutu tapi mempersingkat proses pembuatannya sehingga harganya bisa lebih murah bila dibandingkan dengan batik tulis. Proses pembuatan batik tulis yang timbal balik, misalnya, bisa dikerjakan 5-6 bulan.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Ratna Busana Ratna Maida Ning mengharapkan agar generasi muda dapat memahami dan melestarikan batik karya seni Indonesia. Kalau menghadiri acara resmi, kata Maida, perlu memakai busana yang digabung dengan kain. Tapi kalau untuk acara yang tidak terlalu resmi, katanya, batik itu dapat dipakai dalam berbagai bentuk seperti blus, rok, atau gaun.

Pada tahun 1960-an, kata Maida, harga batik Go atau Setyawati, sudah dijual dengan harga sekitar US$50, karena proses pembuatannya yang halus dengan isen-isen titik yang padat.


Add comment 10 Mei, 2008

Pameran Patung dan Lukisan Ekspresikan Sosok Ibu

PAMERAN tunggal seniman Kun Adnyana ditampilkan di Gaya Art Space perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar. Sebanyak 14 karya kanvas dan 33 patung sentuhan dihadirkan untuk mengisi hari kartini dan hari pendidikan nasional.

Pameran ikut menampilkan sebuah karya instalasi mengusung tema “Ibu” selama sebulan hingga 2 Juni mendatang,” kata Kun Adnyana di Denpasar, Jumat (2/05).

Kun mengatakan sosok Ibu dalam kehidupan manusia telah banyak dirajut dalam berbagai perayaan serimonial. Namun, masyarakat sangat jarang mengkritisi, sejauh mana sesungguhnya perayaan formal relevan bagi penghormatan terhadap sosok ibu.

Lewat karya kanvas kreasi dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini, patung dan instalasi, ia mengekspresikan ibu dalam segala atribut yang lekat ke dalam karya seninya.

Lewat karya seni seniman muda Bali yang kreatif tersebut,ia mengajak semua pihak untuk memahami lebih jauh sosok ibu yang penuh dengan sifat kasih dan sayang.


Add comment 10 Mei, 2008

PENTAS SENI BUDAYA KARO DI PENANG FAIR, MALAYSIA

Untuk menarik minat para investor dari luar negeri agar menanamkan modalnya di provinsi Sumatera Utara khususnya di Kabupaten Karo, Pemerintah Kabupaten Karo mengadakan promosi bisnis dan budaya di Penang Fair ( Cultural performance and business Gathering) untuk memperkenalkan potensi-potensi dan budaya yang dimiliki Kabupaten Karo yang dilaksanakan pada tanggal 16 – 17 Desember 2007 bertempat di Penang, Malaysia sehingga apabila semakin banyak orang yang tahu maka semakin banyak wisatawan yang datang serta juga mengundang investor untuk mau menanamkan modalnya.

 

Pulau Penang, Malaysia menawarkan paket perjalanan yang cukup lengkap. Wisatawan bisa menelusuri beragam objek wisata yang semuanya telah ditata dan dikemas dengan sentuhan inovasi modern. Lebih dari itu, mengunjungikota pulau ini, betapa pentingnya hidup selaras dengan dengan alam. Segala peraturan yang diciptakan betul-betul dipatuhi dan dijalankan oleh pejabat Kerajaan maupun oleh masyarakatnya. Semua menyatu menuju kesempurnaan dan kejayaanMalaysia.Bupati Karo Drs. DD Sinulingga dan Wakil Bupati Karo Ir. Nelson Sitepu beserta tim kesenian Pemkab Karo mendapat kesempatan mewakili Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk tampil diPenang Fair, cukup terkesan keasrian dan keindahan Pulau Penang.

 

Semuanya tertata rapi dan apik. Rasa kebangsaan (nasionalisme) yang tinggi kontras terlihat di pemukiman, apartemen, hotel-hotel, plaja (pusat-pusat perbelanjaan) maupun di jalan-jalan raya. Karena, masyarakatnya menikmati pemerataan pembangunan yang serius dan konsekuen di jalankan pejabat pemerintahan.Disudut-sudutkota, tak ada kotoran, apalagi sampah yang merusak pemandangan. Peraturan yang dijalankan sangat ketat dan memang dijalankan sebagaimana mestinya. Jika ada orang yang ketahuan buang sampah sembarangan, bisa kena denda 200 RM, Informasi ini diperoleh dari Vasu, warga turunan Tamil yang berprofesi sebagai supir taxi di Penang.

Selama berada di Pulau Penang, tak pernah sekalipun terdengar suara-suara klackson mobil, tidak ada saling mendahului, apalagi nyerempet-nyerempet seperti kebiasaan di jalan-jalan kota Medan maupunkota lainnya di Tanah Air. Semuanya patuh pada peraturan yang telah ditentukan. Tidak ada Polisi lalu lintas berseliweran di jalan-jalan raya.  Tempat-tempat parkir tidak ada yang mengaturnya, tapi tata perparkiran teratur dengan baik. Sungguh luar biasa kesadaran masyarakat dan pejabat kerajaan menjalankan dan mematuhi segala peraturan yang diciptakan demi kenyamanan dan keindahankota.


1 comment 17 Januari, 2008

Karya Seni dan Budaya Betawi Diinventarisir Ulang

Kasus klaim pihak Malaysia terhadap kesenian Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange dari Ambon, seni batik dari Jawa, seharusnya menjadi catatan penting bagi setiap daerah untuk membuat hak cipta setiap karya seni dan budaya daerahnya masing-masing.

Hal ini juga menjadi perhatian Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta dengan melakukan inventarisir seluruh karya seni dan budaya Jakarta. Diharapkan, pada tahun 2009, seluruh kebudayaan khas Betawi telah memiliki hak cipta tidak bisa diklaim pihak lain.

Kasubdis Bina Program Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Darudjimat, mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan inventarisir ulang seluruh kesenian khas Betawi. “Ada sekitar 200 lebih kesenian khas Betawi yang harus diselamatkan,” katanya Rabu (19/12).

Saat ini, kata dia, Dinas Kebudayaan sedang melakukan proses inventarisir seluruh karya seni dan budaya dimiliki Jakarta. Selanjutnya, hasil inventarisir diserahkan pada Dephum dan HAM untuk dicatatkan hak ciptanya. “Prosesnya cukup makan waktu,  Dan diperkirakan proses inventarisir ini rampung tahun 2009,” tuturnya.

Panjangnya proses inventarisir ini, lanjut dia, karena pengumpulan informasi tentang karya seni dan budaya Jakarta tidak mudah. “Kemunculan budaya atau seni ini juga tidak tahu kapan,” katanya.

Misalnya saja, ada karya seni atau budaya yang anonim, artinya tidak tahu siapa yang menciptakannya. Sehingga dalam mengumpulkan bukti bahwa kesenian tersebut milik Jakarta cukup sulit,” tuturnya lagi.

Selain itu, karya seni dan budaya diciptakan harus diuji dulu pengaruhnya ke masyarakat. Apakah kebudayaan Jakarta itu sudah melekat di masyarakat atau belum?. “Pembuktian ini yang sulit,” tegasnya.

Kesulitan lainnya, imbuh Darudjimat, pembuktiannya tidak bisa top-down (dari atas ke  bawah) sehingga harus diseminarkan atau lokakarya dengan mengundang berbagai pakar kebudayaan dan seni. “Hasil seminar tersebut, bisa diajukan sebagai dasar untuk pengajuan hak cipta,” katanya.

Meskipun terlihat sulit, menurut Darudjimat, pihaknya akan terus berupaya agar bisa menyelamatkan kesenian Jakarta dari klaim pihak lain. Mengenai anggaran, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman belum bisa menyatakan berapa besar anggaran yang disediakan. “Saat ini kami tengah membahasnya, jadi belum bisa menyatakan berapa besar anggarannya,” pungkasnya.

Saat ini ada sekitar 200 kesenian Jakarta yang tercatat di Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Misalnya dalam seni musik ada Gambang Kromong, Tanjidor, Keroncong Tugu, Gamelan Topeng, Gamelan Ajeng, Samrah, Rebana, dan lain-lain. Sedangkan dalam seni tari ada Topeng Betawi, Cokek, Blenggo, Uncul, Japin, Tari Pencak Silat, Uncul.

Kemudian dalam seni teater ada Ondel-ondel, Gemblokan, Gambang Rancang, Dongeng, Sahibul Hikayat, Gambang Rancang, Wayang (kulit, golek, dan wong), Lenong. Seni sastra seperti Buleng, Sahibul Hikayat, dan Rancak. Seni rupa arsitektur dan ragam hias seperti Potongan Gudang, Potongan Joglo, Potongan Bapang, tembikar, bangunan, perahu, batik, dan alat-alat kesenian. 


1 comment 26 Desember, 2007


Erikson Lumban Gaol

Pengunjung

Kategori

Arsip

Meta

My Comment

SSS di Numb – Linkin Park
dila di Sabun Transparan dari Minyak…
sasmiku di Cara Mengoperasikan Blog by Er…
arif di Alat Musik Tradisional Ac…
nude di UGM Perkenalkan Asap Cair Peng…

Spam Blocked

Blogroll

Taut