Posts filed under 'Kesehatan'

Terapi Subutex untuk Menghambat Penyebaran HIV

Alternatif subsitusi oral bagi penasun dengan subutex dinilai lebih ampuh ketimbang metadon.
PENGGUNA narkoba suntik (penasun) memiliki tingkat penularan tertinggi virus HIV, karena itu upaya memutus mata rantai penyebarannya perlu dilakukan. Maka dalam program harm reduction atau pengurangan dampak buruk pengguna narkoba suntik, terdapat pil subutex sebagai alternatif substitusi oral. Pil ini dinilai lebih ampuh membantu detoksifikasi ketimbang metadon. Bagaimanakah sebenarnya subutex bekerja? Apa kelebihannya dibanding metadon?Pada prinsipnya, dalam program harm reduction untuk menanggulangi HIV/AIDS di kalangan penasun terdapat dua bentuk terapi subtitusi oral yaitu menggunakan metadon dan subutex. Namun, selama ini orang lebih familiar dengan terapi metadon ketimbang Subutex. Hal ini, menurut Dr Benny Ardjil, Kepala Pusat Terapi dan Rehabilitasi Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN), dikarenakan beberapa tahun belakangan subutex masuk dalam kategori obat terlarang.

“Itu terjadi di Singapura karena berbagai kompilikasi yang timbul ditambah dengan penyalahgunaan yang terjadi di masyarakat. Padahal, sebenarnya obat ini masuk dalam kategori zat psikotropika yang legal dan sering digunakan di dunia kedokteran. Karena itu, kami dari BNN sebagai lembaga yang mengawasi penanggulangan narkoba di Indonesia tidak sampai melarang penggunaan subutex. Hanya saja, distribusi dan penggunaannya diawasi secara ketat,” kata Benny pada acara yang digelar Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta, 18 Desember lalu.

Adapun cara penggunaan subutex yang benar adalah dengan ditaruh di bawah lidah sampai larut, bukan ditelan. Proses ini membutuhkan 2-10 menit dan subutex tidak akan bekerja bila dikunyah atau ditelan. Sedangkan penggunaan subutex dengan disuntik atau ditelan dapat menyebabkan kepala pusing, hepatitis, dan tersumbatnya aliran darah. Akibatnya, penasun bisa lumpuh dan terkena stroke.

Seberapa efektifkah subutex mendetoksifikasi pengaruh heroin atau putaw ? “Di setiap dua saraf pada otak terdapat reseptor, di mana putaw masuk ke dalam reseptor sehingga memerintahkan saraf-saraf lain untuk menimbulkan sensasi adiksi. Pada saat subutex masuk, akan mengisi reseptor-reseptor yang kehabisan efek putaw. Sehingga, sensasi euforia putaw pun tergantikan, bahkan tersumbat. Ini artinya, setiap kali putaw masuk kembali sensasi kenikmatannya akan dieliminisasi,” ujar Dr Al Bachri Husin, Psikiater dan Ketua Perhimpunan Dokter Seminat Kedokteran Adiksi Indonesia.

Melihat cara kerja subutex yang seperti itu, apakah tidak mungkin subutex akan menimbulkan kecanduan baru? Menurut Al Bachri, yang menjadi kelebihan subutex adalah bersifat protagonis dan antagonis. Sehingga, di samping mampu menekan agresivitas akibat sakaw, juga mampu menghilangkan efek putaw dari reseptor saraf. “Metadon itu agonis atau sama dengan putaw, sehingga apabila dikombinasikan dengan putaw akan menimbulkan overdosis. Sedangkan pada subutex tidak terjadi hal demikian. Metadon tanpa kombinasi putaw juga sering menimbulkan overdosis karena bersifat agonis,” katanya.

Menanggapi efek subutex yang mampu menekan agresivitas, Benny menyebutkan berdasarkan pilot project yang dilakukan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan Rumah Sakit Sanglah, efektif menekan angka kriminalitas pecandu. Efek positif lain yang juga ditimbulkan dari terapi substitus oral pil bernama generik buprenorphine hydrochloride ini adalah meningkatkan produktivitas pelaku terapi Buprenorphine Maintenance Treatment (BMT).

“Walaupun pada awalnya masih menimbulkan pro dan kontra atas program BMT atau metadon. Satu hal yang harus diingat bahwa adiksi kronik menyebabkan perubahan di otak sehingga masuk dalam kategori brain diseases sehingga mudah sekali kambuh. Untuk itu, terapi subtitusi oral merupakan alternatif ramah untuk membuat penasun hidup normal,” tutur Benny mengingatkan.

Al Bachri menambahkan, tidak semua dokter memiliki wewenang untuk meresepkan subutex kepada setiap penasun. Karena, hanya dokter-dokter yang telah mengikuti pelatihan dan teregistrasi sajalah yang dapat menuliskan resep subutex. Sejauh ini, sudah ada 600 orang dokter terdaftar boleh memberikan subutex sebagai terapi substitusi oral di seluruh Indonesia. “Ada stadium-stadium tertentu dari pecandu yang tidak boleh mendapatkan treatment ini, karena itu dokternya harus paham betul siapa yang dihadapi,” ujarnya.

Adapun varian dari dosis subutex adalah 12, 16, dan 32 mg dengan pola konsumsi 2-3 kali seminggu. Satu pil berharga Rp16-20 ribu. Selama menjalani BMT, penasun juga akan menjalani terapi dari dokter untuk perlahan-lahan mengubah sikapnya dari pecandu menjadi mantan pecandu. “Karena itu, lama terapi sangat beragam tapi umumnya setelah dua tahun dapat benar-benar mengubah tingkah laku,” kata Al Bachri menegaskan.


Add comment 10 Mei, 2008

Target 2008, Indonesia Bebas Flu Burung

SECARA kumulatif, jumlah kasus flu burung pada manusia di Indonesia saat ini mencapai 115 dan 93 di antaranya meninggal. Dibanding tahun 2006, tingkat kematian pada tahun ini meningkat. Tahun 2006, CFR (Case Fatality Rate = persentase penderita flu burung yang meninggal dibanding jumlah total kasus) adalah 81,8 persen. Sedangkan tahun 2007, rata-rata 87,5 persen. Demikian yang disampaikan Bayu Krisnamurthi, Ketua Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung Indonesia (Komnas PFBI) dan Kesiapsiagaan Pandemi Influenza (KPI), di Jakarta, Selasa (18/12), saat menjelaskan evaluasi pengendalian flu burung di Indonesia seperti dilansir Antara.Saat ini flu burung menyebar di 12 provinsi di Indonesia yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Selatan, dan Bali.

Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan (Depkes) RI, dr Lily S Sulistyowati, MM, dalam siaran persnya, Depkes telah berusaha sedapat mungkin memperkecil jumlah warga yang tertular virus flu burung yang ditularkan dari unggas ke manusia. Berkat bantuan Pemerintah Daerah, korban flu burung menurun jumlahnya. Namun, menurutnya, kunci pencegahan penyebaran virus flu burung dari hewan ke manusia adalah di tangan individu sendiri. Kesadaran untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta memisahkan unggas dari permukiman belum sepenuhnya dilakukan masyarakat. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Bayu, meskipun sebagian besar masyarakat sudah tahu bahaya flu burung, namun masih sedikit yang berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan pengendaliannya.

Padahal, Dr drh Chairul A Nidom MS, dari Universitas Airlangga (Unair) seperti dilansir Antara, Rabu (12/12), mengingatkan, Indonesia bisa menjadi pandemik (sumber wabah penyakit) flu burung di dunia. Dengan tingkat kematiannya yang tinggi, Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia. Sedangkan Vietnam yang jumlah penderita meninggalnya 46 orang meduduki peringkat kedua di dunia.

Menurut Chairul, untuk mencegah Indonesia menjadi pandemik flu burung maka pemerintah harus melaksanakan langkah mendasar. Langkah tersebut antara lain; adanya kerja sama antara Depkes dan Disnak (Dinas Peternakan), yang selama ini saling menyalahkan. Selain itu, manajemen unggas yang serius. Pemotongan unggas dipusatkan pada RPH (Rumah Pemotongan Hewan), tidak seperti sekarang ini yang memungkinkan unggas dipotong di pasar. “Manajemen unggas seperti itu harus mendapat subsidi dari pemerintah karena masyarakat atau pedagang ayam tidak mungkin mampu membayar pemotongan di RPH, sehingga harga jual unggas di pasar akan tetap,” katanya. Semua unggas di kota dan di desa harus dalam kandang, untuk ini mungkin diperlukan subsidi kandang.

Ada beberapa hal yang bisa dijadikan “warning” untuk tahun 2008 terkait flu burung. Menurut Bayu, jumlah kasus flu burung inkonklusif (kasus yang tidak jelas faktor penularannya) selama 2007 lebih banyak terjadi ketimbang tahun 2006. Tahun 2006, kasus inkonklusif hanya 20-25 persen, sedangkan tahun 2007 adalah 25-30 persen. Hal ini merupakan tantangan baru yang perlu diantisipasi pada tahun 2008. Hal lain yang perlu dicatat, kejadian infeksi virus Avian Influenza (AI) H5N1 pada unggas selama 2007 lebih sporadik. Penularannya meluas. Pada tahun 2006, kasus flu burung pada unggas hanya terjadi di 241 kabupaten/kota, tapi pada 2007 daerah endemis flu burung pada unggas bertambah menjadi 268 kabupaten/kota.

Terkait virus flu burung sendiri, menurut Chairul, ada lima genotip yakni A, B, C, C’ dan D. Lima genotip tersebut ditemukan dari kajiannya sejak tahun 2003 sampai kini terhadap 241 virus AI di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Indonesia Timur. Tahun 2003, mulai ada genotip A di Jawa Tengah. Tahun 2004, ada genotip A di Samarinda dan genotip B di Sumatera serta genotip C di Jawa. Tahun 2005, mulai ada genotip C di Jawa dan Sumatera Utara. Genotip C’ merupakan pengembangan dari genotip C, sedangkan genotip D adalah pertemuan genotip A, C, dan C’. Genotip D mulai ada tahun 2006 di Papua dan Sumatera Selatan. Genotip C, C’ dan D cukup mendominasi pada tahun 2007. Munculnya varian genotip virus AI ini salah satu hal yang menyulitkan pengobatan, karena ketika suatu vaksin untuk suatu jenis genotip ditemukan ternyata telah muncul jenis genotip lain.

Untuk tahun 2008, Komnas PFBI dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza akan menyelenggarakan simulasi besar untuk mengujicoba Rencana Kesiapsiagaan Pandemi Influenza Republik Indonesia. Simulasi ini akan diselenggarakan di Bali. Untuk itu, Komnas PFBI telah membentuk tim perumus renana kesiapsiagaan menghadapi pandemik yang akan menjelaskan peran semua pihak, termasuk dunia swasta dan kelompok masyarakat serta media massa. Simulasi dalam skala kecil telah dilakukan di Provinsi Jawa Barat dan Banten pada tahun 2007. Menurut Bayu, hanya 41 persen dari seluruh negara di dunia ini yang telah melaksanakan simulasi berskala besar. Target lain untuk tahun 2008, menurut Bayu, adalah melanjutkan proses komunikasi pada masyarakat dengan mengintensifkan sasaran pada para ibu rumah tangga sebagai kelompok strategis.

Meskipun tidak ada yang berharap pandemik flu burung benar-benar terjadi, tapi menurut Dr Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), DTM&H, MARS, simulasi untuk menghadapi situasi itu perlu dilakukan. Karena, jika pandemik nantinya sungguh terjadi maka tingkat interaksi antarmansuia akan diminimalisasi.

Selama ini virus H5N1 memang baru menular dari unggas ke manusia, tapi harus diantisipasi jika mutasi virus yang terjadi menyebabkan penularan antarmanusia. Bila hal ini terjadi, menurut Tjandra, mulai dari sekolah sampai perkantoran akan ditutup untuk menekan penularan. “Namun, yang sering dilupakan bagaimana alur informasi mengenai pengumuman sekolah atau kantor kalau memang ditutup. Contohnya, jika sekolah ditutup siapa yang berkewajiban menunggu di sekolah untuk menerima pemberitahuan itu dan bagaimana pengumuman yang efisien harus dilakukan. Kelihatannya sederhan, tapi harus ada kerangka yang jelas ketika kelak harus dihadapi,” kata anggota Komnas PFBI ini pada Jurnal Nasional beberapa waktu lalu.

Menurut situs resmi Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia, ikabisurgeon.com, penangglangan flu burung di Indonesia hingga tahun 2008 diperkiarakan menelan dana Rp9 triliun, Rp7,5 triliun untuk pengendalian penyebaran flu burung, sisanya untuk penanganan unggas dan pasien yang terkena virus H5N1. Dana tersebut bersumber dari APBN dan lembaga donor dari luar negeri. Menurut Bayu, sejumlah negara bertekad membantu dana sekitar US$400 juta untuk mengatasi flu burung di dunia termasuk di Indonesia.

Meski sebagian orang pesimistis tentang target pemerintah tahun 2008 Indonesia bebas flu burung, namun bila masyarakat berperan aktif membebaskan diri dan keluarga serta lingkungan sosialnya dari virus ini dengan melaksanakan hidup sehat maka tak mustahil target tersebut bisa dicapai. Apa lagi kini Tropical Diseases Center (TDC) Unair punya laboratorium AI berskala internasional hibah dari pemerintah Jepang. Ditambah laboratorium lain di Tanah Air seperti di Lembaga Eijkman atau lembaga yang di Makassar.


Add comment 10 Mei, 2008


Erikson Lumban Gaol

Pengunjung

Kategori

Arsip

Meta

My Comment

SSS di Numb – Linkin Park
dila di Sabun Transparan dari Minyak…
sasmiku di Cara Mengoperasikan Blog by Er…
arif di Alat Musik Tradisional Ac…
nude di UGM Perkenalkan Asap Cair Peng…

Spam Blocked

Blogroll

Taut