Desa Budaya Berpotensi Dikembangkan Jadi Objek Wisata
Add comment 17 Januari, 2008
Add comment 17 Januari, 2008
Beberapa waktu lalu media massa kita sempat menghebohkan lagu Rasa Sayange yang diadopsi Malaysia untuk kepentingan promosi pariwisatanya. Tentu saja mayoritas kita bangsa Indonesia langsung berteriak dan memprotesnya.
Lagu Rasa Sayange adalah lagu daerah yang berasal dari Maluku, Indonesia. Lagu ini merupakan lagu daerah yang selalu dinyanyikan secara turun-temurun sejak dahulu sebagai lagu pergaulan, baik di antara masyarakat Maluku, sebagai asal dari lagu ini, juga hampir di seantero Indonesia.
Jika didengarkan, lagu ini layaknya berbalas pantun yang bersahutan, sehingga memiliki banyak versi. Lirik lagu pergaulan ini biasanyu secara spontanitas, sesuai maksud dan tujuan pantun. Sejak Oktober 2007 lagu ini digunakan oleh Departemen Pariwisata Malaysia untuk mempromosikan kepariwisataan negeri Jiran itu. Sementara itu Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor mengatakan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu kepulauan Nusantara (Malay archipelago).
Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu berusaha untuk mengumpulkan bukti otentik bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu rakyat Maluku, untuk disampaikan pada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Gubernur bersikeras lagu Rasa Sayange adalah milik Indonesia, karena merupakan lagu rakyat yang telah membudaya di Maluku sejak leluhur, sehingga klaim Malaysia itu dianggapnya hanya mengada-ada.
Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor menyatakan bahwa rakyat Indonesia tidak bisa membuktikan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu rakyat Indonesia. Kini bukti tersebut telah ditemukan. Rasa Sayange diketahui direkam pertama kali di Lokananta, Solo, Indonesia, pada 1958.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Sebelumnya Malaysia sudah mematenkan motif batik parang asli Yogyakarta. Selain itu, untuk kepentingan pariwisatanya Malaysia juga sudah mematenkan sate, jamu dan layang-layang. Tidak tanggung-tanggung Malaysia memberangkatkan astronotnya dengan tema Batik in Space.
Untuk menghindari tindakan saling mengklaim karya budaya, inventarisasi warisan budaya pun kini menjadi keharusan. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Andi Matallata, pun menandatangani nota kesepahaman Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Kekayaan Intelektual Ekspresi Budaya Warisan Tradisional Milik Bangsa Indonesia.
Dengan nota tersebut, maka dimulailah inventarisasi warisan budaya secara resmi, agar negara lain tidak mengklaim warisan budaya Indonesia. Semenjak krisis ekonomi yang melanda Indonesia, Malaysia kerap menganggap rendah bangsa Indonesia, antara lain dengan memanggil warga Indonesia dengan sebutan yang melecehkan Indon, merazia warga Indonesia, mematenkan budaya Indonesia.
Over Acting
Kondisi ekonomi Malaysia yang kini relatif lebih baik ketimbang kita, membuat mereka cenderung over acting. Mereka kerap kali memiliki persepsi bahwa semua orang Indonesia sama dengan para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang membantu di rumah-rumah mereka. Selain itu Malaysia sangat ambisi untuk mencoba mengambil alih pimpinan Asean dari tangan Indonesia.
Sebetulnya rakyat Malaysia memiliki minder kompleks terhadap Indonesia, perasaan rendah diri, layak seorang adik terhadap kakaknya. Generasi muda Malaysia sangat akrab dengan Peterpan, Sheila On Seven, Ungu, Raja, Krisdayanti dan banyak artis-artis Indonesia lainnya.Mereka memuja para artis kita. Radio-radio Malaysia selalu memutar lagu-lagu Indonesia. Demikian juga televisinya, penuh dengan sinetron Indonesia. Temu fans dengan artis Indonesia di Malaysia selalu penuh sesak.
Saat ini Malaysia juga sangat dipusingkan dengan keberadaan 3 juta warga negara Indonesia di Malaysia. Ini adalah angka yang sangat besar dan sangat memengaruhi politik, ekonomi, sosial, budaya dan keamanan Malaysia. Padahal, awalnya ratusan ribu hingga jutaan TKI sengaja dimasukkan ke Malaysia untuk memenangkan UMNO-parpol terbesar di Malaysia. Mereka benci tapi rindu kepada para TKI. Maklum tanpa TKI, Malaysia lumpuh. TKI menguasai hampir semua bidang pekerjaan di Malaysia. Mulai dari perkebunan, pembantu rumah tangga hingga pekerja konstruksi.
Pada awal 2005, Malaysia pernah memulangkan TKI secara besar-besaran lantaran jiran kita itu bersengketa soal Blok Ambalat. Namun, jutaan TKI itu kemudian dipanggil lagi-baik secara legal maupun illegal-karena Malaysia sedang panen kelapa sawit, dan tidak ada yang bekerja di ladang-ladang mereka. Namun secara politik dan demokratisasi, Malaysia jauh ketinggalan dibanding Indonesia. Coba perhatikan, koran-koran di Malaysia, nyaris tak ada berita ‘miring’ soal pemerintahnya. Yang ada cuma berita keberhasilan ekonomi mereka, dan berita kriminal-yang celakanya, didominasi oleh para Indon.
Demokrasi, merupakan kata yang paling ditakuti pemerintah Malaysia. Mereka berusaha keras agar demokrasi yang terjadi di Indonesia tidak pernah menulari Malaysia. Itulah salah satu sebab mengapa koran-koran Malaysia hampir setiap hari gemar memuat berita-berita negatif berbau reformasi yang terjadi di Indonesia. Salah satunya agar rakyatnya takut untuk memulai demokrasi.
Faktanya memang pemberitaan kita di Indonesia, kritik-kritik pedas kepada pemerintah atau pemimpin negara merupakan hal yang kini sangat lumrah. Berita-berita seperti itu, di satu sisi secara gamblang menggambarkan betapa kebebasan pers di Indonesia sudah jauh lebih maju, tapi di sisi lain memperkental citra buruk Indonesia di mata masyarakat Malaysia.
Walau demikian desakan demokratisasi di Malaysia tampaknya tidak akan bisa terbendung lagi. Cepat atau lambat, hal itu pasti melanda rakyat Malaysia. Keberhasilan Indonesia melakukan demokratisasi kini sudah diakui dunia. Kita berhasil mendobrak dominasi Orde Baru yang berkuasa hampir seperempat abad. Sedangkan Malaysia sejak berpuluh tahun masih belum bisa lepas-dan seolah tak berniat lepas-dari dominasi UMNO. Malaysia seperti tak melihat alternatif untuk memilih pemimpin dari partai lain, yang mungkin bisa membawa negara itu ke kejayaan baru.
Sejak kejatuhan Soeharto, Indonesia sudah memiliki empat presiden baru, yakni BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Megawati Sokarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Yang patut digarisbawahi dari pergantian presiden di Indonesia itu, adalah bangsa ini tetap tegar. Indonesia memang sempat terpuruk hingga ke titik paling rendah, tapi bisa bangkit kembali.
Malaysia? Saya tak terlalu yakin mereka bisa melakukan demokratisasi sebaik Indonesia. Malaysia, saya kira tak akan setegar Indonesia dalam menghadapi krisis yang hampir meruntuhkan bangsa.
Add comment 26 Desember, 2007
| SSS di Numb – Linkin Park | |
| dila di Sabun Transparan dari Minyak… | |
| sasmiku di Cara Mengoperasikan Blog by Er… | |
| arif di Alat Musik Tradisional Ac… | |
| nude di UGM Perkenalkan Asap Cair Peng… |