Erik Lumban Gaol Website

Membaca Tidak Berkomentar Menyebabkan RABIES —> CP : 081392952822

Arsip untuk ‘Kebudayaan’ Kategori

Alat Musik Tradisional Nusa Tenggara Timur

Ditulis oleh erik12127 di/pada 2 Oktober, 2009

MEMULAI BISNIS SEBAGAI PENGHASILAN SAMPINGAN

KLIK GAMBAR

web%20alt%201

Berikut ini adalah alat-alat musik dan bunyi-bunyian yang berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur, alat-alat musik ini memiliki ciri khas khusus dan bunyi yang sangat menarik.

Alat Musik Tiup


FOY DOA

Kabupaten Ngada Flores yang beribukota Bajawa mempunyai banyak ragam kesenian daerah. antara lain musik Foy Doa.
Seberapa lama usia musik Foy Doa tidaklah diketahui dengan pasti karena tidak ada peninggalan- peninggalan yang dapat dipakai untuk mengukurnya. Foy Doa berarti suling berganda yang terbuat dari buluh/bamabu keil yang bergandeng dua atau lebih.
Mungkin musik ini biasanya digunakan oleh para muda-mudi dalam permainan rakyat di malam hari dengan membentuk lingkaran.
Sistem penalaan, Nada-nada yang diproduksi oleh musik Foy Doa adalah nada-nada tunggal dan nada-nada ganda atau dua suara, hak ini tergantung selera si pemain musik Foy Doa.
Bentuk syair, umumnya syair-syair dari nyanyian musik Foy Doa bertemakan kehidupan , sebagai contoh : Kami bhodha ngo kami bhodha ngongo ngangi rupu-rupu, go-tuka ate wi me menge, yang artinya kami harus rajin bekerja agar jangan kelaparan.
Cara Memainkan, Hembuskan angin dari mulut secara lembut ke lubang peniup, sementara itu jari-jari tangan kanan dan kiri menutup lubang suara.
Perkembangan Musik Foy Doa, Awal mulanya musik Foy Doa dimainkan seara sendiri, dan baru sekitar 1958 musisi di daerah setempat mulai memadukan dengan alat-alat musik lainya seperti : Sowito, Thobo, Foy Pai, Laba Dera, dan Laba Toka. Fungsi dari alat-alat musik tersebut di atas adalah sebagai pengiring musik Foy Doa.



FOY PAY

Alat musik tiup dari bambu ini dahulunya berfungsi untuk mengiringi lagu-lagu tandak seperti halnya musik Foy Doa.
Dalam perkembangannya waditra ini selalu berpasangan dengan musik Foy Doa. Nada-nada yang diproduksi oleh Foy Pai : do, re, mi, fa, sol.



KNOBE KHABETAS

Masyarakat Dawan peraya bahwa alat musik Knobe Kbetas telah ada sejak nenek moyang mereka berumah di gua-gua. Bentuk alat musik ini sama dengan busur panah. Cara memainkannya ialah, salah satu bagian ujung busur ditempelkan di antara bibir atas dan bibir bawah, dan kemudian udara dikeluarkan dari kerongkongan, sementara tali busur dipetik dengan jari. Meripakan kebiasaaan masyarakat dawan di pedesaan apabila pergi berook tanam atau mengembala hewan mereka selalu membawa alat-alat musik seperti Leku, Heo, Knobe Kbetas, Knobe Oh, dan Feku. Sambil mengawasi kebun atau mengawasi hewan-hewan, maka musik digunakan untuk melepas kesepian. Selain digunakan untuk hiburan pribadi, alat musik ini digunakan juga untuk upacara adat seperti, Napoitan Li’ana (anak umur 40), yaitu bayi yang baru dilahirkan tidak diperkenankan untuk keluar rumah sebelum 40 hari. Untuk menyonsong bayi tersebut keluar rumah setelah berumur 40 hari, maka diadakan pesta adat (Napoitan Li’ana).



KNOBE OH

Nama alat musik yang terbuat dari kilit bambu dengan ukuran panjang lebih kurang 12,5 cm. ditengah-tengahnya sebagian dikerat menjadi belahan bambu yang memanjang (semacam lidah) sedemikian halusnya, sehingga dapat berfungsi sebagai vibrator (penggetar). Apabila pangkal ujungnya ditarik dengan untaian tali yang terkait erat pada pangkalujung terseut maka timbul bunyi melalui proses rongga mulut yang berfungsi sebagai resonator.


NUREN

Alat musik ini terdapat di Solor Barat. Orang Talibura di Sikka Timur menyebut alat musik ini dengan nama Sason, apabula disebut seara puitis menjadi Sason Nuren. Secara etimologi Sason berarti jantan, dan Nuren berarti perempuan. Sason Nuren merupakan dua buha suling yang dimainkan oleh seorang sendirian, merupakan sebutan keramat, sakral, kesayangan, alat hiburan. Menurut cerita tua, seorang tokoh legendaris Solor Barat konon berkepala dua sekaligus memiliki rmulut dua. Orang Solor Barat menyebutnya dengan nama Edoreo sedangkan di bagian tengah Solor Barat menyebutnya dengan nama Labaama Kaha. Konon menurut erita ia pernah hidup 3-4 abad yang lalu. Konon menurut erita pula ia mampu meminkan Sason Nuren sekaligus, sehingga apabila sedang maminkan lat musik ini orang mengira ada dua pribadi yang sedang memainkan Sason Nuren. Menurut keperayaan penduduk setempat Sason Nuren merupakan suara para peri (nitun).


SUNDING
TONGKENG

Nama alat musik tiup ini berhubungan dengan bentuk serta ara memainkannya, yaitu seruas bambu atau buluh yang panjangnya kira-kira 30 cm. Buku salah satu ujung jari dari ruas bambu dibiarkan. Lubang suara berjumlah 6 buah dan bmbu berbuku. Sebagian lubang peniutp dililitkan searik daun tala. Cara memainkan alat musik ini seperti memainkan flute. Karena posisi meniup yang tegak itu orang Manggarai menyebutnya Tongkeng, sedangkan sunding adalah suling., sehingga alat musik ini disebut dengan nama Sunding Tongkeng. Alat musik ini bisanya digunakan pada waktu malam hari sewaktu menjaga babi hutan di kebun. Memainkan alat musik ini tidak ada pantsngan, keuali lagu memanggil roh halus yaitu Ratu Dita



PRERE

Alat bunyi-bunyian dari Manggarai ini terbuat dari seruas bambu keil sekeil pensil yang panjangnya kira-kira 15 cm. Buku ruas bagian bawah dibiarkan tertutup, tetapi bagian atasnya dipotong untuk tempat meniup. Buku ruaw bagian bawah dibelah untuk menyaluirkan udara tiupan mulut dari tabung bambu bagian atas, sekaligus bagian belahan bambu itu untuk melilit daun pandan sehingga menyerupai orong terompet yang berfungsi memperbesar suaranya. Alat musik ini selain digunakan untuk hiburan pribadi, juga digunakan untuk mengiringi musik gong gendang pada permainan penak silat rakyat setempat. Nada-nada yang dihasilkan adalah do dan re, sehingga nama alat ini disebut Prere.



SULING

Umumnya seluruh kabupaten yang ada di NTT memiliki instrumen suling bambu, seperti di Sumba terdapat suling hidung. Namanya demikian karena suling ini ditiup dari hidung. Kalau di Kabupaten Belu terdapat orkes suling dengan jumlah pemain ( 40 orang. Orkes suling ini terdiri dari suling pembawa melodi (suling keil), dan suling pengiring yang berbentuk silinder yaitu, suling alto, tenor, dan bass. Suling pengiring ini terdiri dari 2 bambu yang berbentuk silinder yaitu, bambu peniup berukuran keil dan bambu pengatur nada berbentuk besar.
Suling melodi bernada 1 oktaf lebih, suling pengiring bernada 2 oktaf. Dengan demikian untuk meniptakan harmoni atau akord, maka suling alto bernada mi, tenor bernada sol, dan bass bernada do, atau suling alto bernada sol, tenor mi,dan dan bass bernada do.
Cara memainkan : suling sopran atau pembawa melodi seperti memainkan suling pada umumnya, dan suling pengiring sementar bambu peniup dibunyikan, maka bambu pengatur nada digerakkan turun dan naik, yaitu sesuai dengan nada yang dipilih. Keualui pada sulign bass, bambu peniup yang digerakkan turun dan naik.
Fungsi alat musik suling ini untuk menyambut tamu atau untuk memeriahkan hari-hari nasional.


AlatMusik Petik

Gambus

GAMBUS

Alat musik diperkirakan masuk ke Flores Timur sejak masuknya agama Islam sekitar abad 15. Alat musik ini terbuat dari kayu, kulit hewan, senar, dan paku halus. Alat musik petik ini merupakan instrumen berdawai ganda yaitu, setiap nada berdawai dua/double snar. Dawai pertama bernada do, dawai kedua bernada sol. Dan dawai ketiga bernada re, atau dawai pertama bernada sol, dawai kedua bernada re, dan dawai ketiga bernada la. Fungsi alat musik ini untuk mengiringi lagu-lagu padang pasir.



HEO

Alat gesek (heo) terbuat dari kayu dan penggeseknya terbuat dari ekor kuda yang dirangkai menjadi satu ikatan yang diikat pada kayu penggesek yang berbentuk seperti busur (dalam istilah masyarakat Dawan ini terbuat dari usus kuskus yang telah dikeringkan). Alat ini mempunyai 4 dawai, dan masing-masing bernama :
- dawai 1 (paling bawah) Tain Mone, artinya tali laki-laki
- dawai 2 Tain Ana, artinya tali ana
- dawai 3 Tain Feto, artinya tali perempuan
- dawai 4 Tain Enf, artinya tali induk
Tali 1 bernada sol, tali 2 bernada re, tali tiga bernada la dan tali 4 bernada do.



LEKO BOKO/ BIJOL

Alat musik petik ini terbuat dari labu hutan (wadah resonansi), kayu (bagian untuk merentangkn dawai), dan usus kuskus sebagai dawainya. Jumlah dawai sama dengan Heo yaitu 4, serta nama dawainya pun seperti yang ada pada Heo. Fungsi Leko dalam masyarakat Dawan untuk hiburan pribadi dan juga untuk pesta adat. Alat musik ini selalu berpasangan dengan heo dalam suatu pertunjukan, sehingga dimana ada heo, disitu ada Leko. Dalam penggabungan ini Lelo berperan sebagai pembei harmoni, sedangkan Heo berperan sebagi pembawa melodi atau kadang-kadang sebagai pengisi (Filter) Nyanyian-nyayian pada msyarkat Dawan umumnya berupa improvisasi dengan menuturkan tentang kejadian-kejadi an tang telah terjadi pda masa lampau maupun kejadian yang sedang terjadi (aktual).Dalam nyanyian ini sering disisipi dengan Koa (semaam musik rap). Koa ada dua macam yaitu, Koa bersyair dan Koa tak bersyair.



SOWITO

Alat musik pukul dari bambu dari Kabupaten Ngada. Seruas bambu yang dicungkil kulitnya berukuran 2 cm yang kemudian diganjal dengan batangan kayu kecil. Cungkilan kulit bambu ini berfungsi sebagai dawai. Cara memainkan dipukul dengan sebatang kayu sebesar jari tangan yang panjangnya kurang dari 30 cm. Sertiap ruas bambu menghasilkn satu nada. Untuk keperluan penggiringan, alat musik ini dibuat beberapa buah sesuai kebutuhan.


REBA

Alat musik ini berdawai tunggal ini, terbuat dari tempurung kelapa/labu hutan sebagai wadah resonansi yang ditutupi dengan kulit kambing yang ditengahnya telah dilubangi. Dawainya terbuat dari benang tenun asli yang telah digosok dengan lilin lebah. Penggeseknya terbuat dari sebilah bambu yang telah diikat dengan benang tenun yang juga telah digosok dengan lilin lebah.
Dalam pengembangannya alat ini dari jenis gesek menjadi alat musik petik, yang juga berdawai satu dimodifikasikan menjadi 12 dawai, serta dawainya pun diganti dengan senar plastik. Reba tiruan ini berfungsi untuk mengiringi lagu-lagu daerah populer.



MENDUT

Alat musik petik/pukul dari bambu ini berasal dari Manggarai. Seruas bambu betung yang 1,5 tahun yang panjangnya kira-kira 40 m. Kedua ujung bambu dibiarkan, namun salah satunya dilubangi.
Cara pembuatannya, di tengah bambu dilubangi persegi empat dengan ukuran 5 x 4 m. Disamping kiri kanan lubang masing-masing dicungkil satu kulit bambu yang kemudian diganjal dengn batangan kayu hingga berfungsi sebagai dawai.
Cara memainkan alat musik ini adalah dengan dipetik atau dipukul-pukul dengan kayu kecil.



KETADU MARA

Alat musik petik dua dawai yang biasa digunakan untuk menghibur diri dan juga sebagai sarana menggoda hati wanita. Alat musik ini dipercayai pula dapat mengajak cecak bernyanyi dan juga suaranya disenangi makluk halus.



SASANDO


Sasando Listrik

Fungsi musik sasando gong dalam masyarakat pemiliknya sebagi alat musik pengiring tari, menghibur keluarga yang sedang berduka, menghibur keluarga yang sedang mengadakan pesta, dan sebagai hiburan pribadi. Sasando gong yang pentatonis ini mempunyai banyak ragam cara memainkannya, antara lain : Teo renda, Ofalangga, Feto boi, Batu matia, Basili, Lendo Ndao, Hela, Kaka musu, Tai Benu, Ronggeng, Dae muris, Te’o tonak.
Ragam-ragam tersebut sudah merupakan ragam yang baku, namun dengan sedikit perbedaan ini dikarenakan :
(a). Rote terdiri dalam 18 Nusak adat dan terbagi dalam 6 keamatan. Dengan sendirinya setiap nusak mempunyai gaya permainan yang berbeda-beda. (b). Perbedaan-perbendaan ini dipengaruhi oleh kemampuan musikalis dari masing-masing pemain sasando gong. (c). Belum adanya sistem notasi musik sasando gong yang baku.

Perkembangan Sansando
Sasando pada mulanya menggunakan tangga nada pentatonis. Diperkirakan akhir abad ke-18 sansando mengalami perkembangan sesuai tuntutn zaman, yaitu menggunakan tangga nada diatonis. Sasando diatonis khusunya berkembang di Kabupaten Kupang.
Jumlah dawai yang digunakan oleh sasando diatonis bervariasi yaitu, 24 dawai, 28 dawai, 30 dawai, 32 dawai, dan 34 dawai. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya yaitu kira-kira 1960 untuk pertam kalinya sasando menggunakan listrik. Ide ini datang dari seorang yang bernama Bapak edu Pah, yaitu salah seorang pakar pemain sasando di Nusa Tenggara Timur.


Alat Musik Bunyi-bunyian
KERONTANG

Pada jaman lampau wilayah pulau komodo masih berhutan, karena itu masih banyak binatang buas perusak tanaman seperti Kera. Untuk mengusir binatang pengganggu tanaman, terciptalah alat musik ini. Alat musik bunyi-bunyian ini terbuat dari tiga belahan kayu bulat kering yang panjangnya 30 cm. Ketiga belahan kayu ini diletakkan di atas kaki pemain yang sedang duduk dan kemudian dipikul dengan batangan kayu sebesar jari tengah.


TATABUANG

Di Tanalein alat musik ini disebut Leto, di Desa Lamanole Flores Timur disebut Tatabuang. Rupanya mirip dengan nama Totobuang alat musik dari Maluku. Kemungkinan besar alat musik ini dibawa oleh suku Kera (Keraf) dari Maluku. Sebutan Tatabuang hanya terdapat di Lemonale, dan di desa ini banyak terdapat orang suku Kera yang menyebut dalam sejarah pelayaran menggunakan perahu kora-kora. Terdapat sebuah erita bahwa asal muasal alat musik ini dari seorang anak yang selalu mau mengikuti orang tuanya ke kebun. Setiap hari sang anak selalu menangis, dan ini sangat mengganggu kepergian mereka kek kebun. Untuk mengatasinya sang ayah membuat alat musik ini untuk sang anak.
Di Lemonale permainan Tatabuang melalui dua cara, yaitu digantung seperti Leto dan yang lain diletakkan di atas pangkuan.
Tatabuang dibuat dari batangan kayu Sukun yang digantung berbentuk bulat dan hati dari kayu tersebut dikeluarkan. Tatabuang yang digantung bernama Letor di Sikka dan yang dipangku bernama Preson di Wulanggintang.



THOBO

Alat musik tumbuk dari bambu ini berasal Kabupaten Ngada. Seruas Bambu betung yang buku bagian bawahnya dibiarkan, sedangkan bagian atasnya dilubangi. Ara memainkannya ditumbuk ke lantai atau tanah (seperti menumbuk padi). Alat musik ini berfungsi sebagai bass dalam mengiringi musik Foy doa.


GONG

Gong merupakan alat musik yang umum terdapat pada masyarakat Nusa Tenggara Timur yang terbuat dari tembaga, kuningan, atau dari besi. Biasanya digunakan untuk berbagai tujuan, misalnya untuk pesta adat, mengiringi tarian dalam penerimaan tamu dan sebagainya.
Perbedaan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain antara lain jumlah gong , ukurannya, cara memainkannya, serta penglarasnya. Khusus penglaras umunya berkisar pada laras pelog dan slendro.

Nama-nama gong pada masing-masing daerah tidak sama, untuk jelas lihat ontoh berikut :

a. Gong Sumba Barat

Kelompok pertama yang terdiri dari 4 buah gong kecil (katala meduk) dengan urutan pemukulan sebagai berikut :
Mamaalu/gong pertama yaitu gong yang ditabuh/dibunyikan paling pertama, Pahimangu/gong kedua yaitu gong yang dibunyikan setelah mamaulu berbunyi, Pahelungu/gong ketiga yaitu gong yang dibunyikan dengan kecepatan dua kali lebih epat dari gong yang terdahulu, Kabokang/gong keempat yaitu gong yang dibunyikn sama epatnya dengan gong ketiga dan saling mengisi sehingga terdengar bunyi yang harmonis.


Kelompok kedua yang terdiri dari dua gong besar, yang dalam bahasa Anakalang disebut Katalla bakul, namun ada juga menyebut dengan nama Gasa. Katalla Bakul atau Gasa dibunyikan seara berganti-ganti untuk mengimbangi keempat gong di atas (kelompok pertama).

b. Gong Sabu

Nama-nama gong sesuai dengan cara menabuhnya, ontoh gong pengiring tari Ledo Hawu :
Leko yaitu dua buah gong yang mula-mula ditabuh seara bergantian, Didale ae, Didala Iki, dan Gaha yaitu tiga buah gong yang berukuran agak besar (gong bass) yang juga ditabuh secara bergantian, Wo Peibho Abho yaitu dua buah gong yang ditabuh sebagai pengiring gong Leko, Wo Paheli yaitu dua buah gong yang ditabuh sebagai pengiring Leko dan We Peibho Abho.

c. Gong Alor

Nama-nama gong :
- Kingkang yaitu dua buah gong kecil.
- Dung-dung/kong-kong yaitu dua buah gong sedang.
- Posa yaitu tiga buah gong besar.

d. Gong Ngada

Gong Ngada terdiri dari lima buah dan umumnya berukuran kecil. Nama-nama gong :
- Doa yaitu dua buah gong yang dimainkan seara silih berganti.
- Dhere yaitu terdiri dari satu gong
- Uto-uto yang juga hanya satu gong
- Wela yaitu gong yang paling tingi suaranya.

e. Gong Dawan

Gong Dawan yang dimaksudkan di sini adalah dari Amanuban tepatnya di Desa Nusa Timor Tengah Selatan. Gong yang digunakan umumnya berjumlah 6 buah. Nama-nama gong :
Tetun yaitu dua buah gong keil, namun apabila dari kedua gong ini hanya dibunyikan salah satunya maka namnya berubah menjadi Toluk, Ote’ yaitu dua buah gong sedang. Kedua gong ini dibunyikan dengan penuh perasaan, Kbolo’ yaitu dua buah gong besar yang dimainkan dengan tidak terlalu cepat.

Ditulis dalam Kebudayaan | Leave a Comment »

Desa Budaya Berpotensi Dikembangkan Jadi Objek Wisata

Ditulis oleh erik12127 di/pada 17 Januari, 2008

Sejumlah desa budaya di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki potensi dikembangkan menjadi objek wisata yang layak jual bagi wisatawan.
“Desa budaya adalah desa yang masyarakatnya masih memiliki dan melestarikan kehidupan budaya serta memegang kuat adat-istiadat, sehingga diharapkan bisa dijadikan paket kunjungan wisatawan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Condroyono di Yogyakarta.
Ia mengatakan, daerah ini memiliki banyak desa budaya, tapi untuk menjadi desa budaya yang layak dijual kepada wisatawan harus diseleksi dan dibenahi dengan baik.
“Untuk mewujudkan desa budaya itu, perlu dipilih satu hingga dua desa budaya sebagai percontohan, yang kemudian dikemas dalam paket wisata. Diharapkan nantinya tumbuh dengan sendiri desa budaya yang lain,” katanya.
Menurut dia, kriteria desa budaya yang layak jual tersebut adalah kondisi masyarakatnya masih memegang budaya dan adat setempat, memiliki atraksi seni budaya, arsitektur rumah masih asli pedesaan dan terletak di kawasan yang bernuansa alam pedesaan.
Wisatawan saat mengunjungi desa budaya diharapkan menginap di rumah penduduk selama beberapa hari agar mereka bisa menikmati kehidupan warga desa yang masih asli itu, mulai saat bangun pagi hingga malam hari menjelang tidur.
“Wisatawan bisa ikut petani bekerja membajak sawah, atau ikut mengerjakan produk kerajinan. Kemudian bisa menikmati makanan seperti yang dikonsumsi warga desa setempat. Sedangkan pada malam hari, wisatawan disuguhi atraksi seni tradisional desa itu,” katanya.
Ia menyatakan optimis jika desa budaya ini dikemas dalam paket wisata yang baik, akan menarik minat wisatawan untuk menginap di desa itu dan keadaan desa wisata di DIY ini diyakini lebih spesifik karena daerah lain tidak memiliki seperti yang dimiliki daerah ini.
Pasar paket wisata ini tidak hanya untuk wisatawan mancananegara (wisman), tapi juga isatawan nusatara khususnya pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.
“Jika desa budaya ini sudah terwujud, para pelaku wisata di daerah ini tinggal menindaklanjuti dengan mempromosikan produk wisata ini baik di dalam maupun luar negeri,” kata mantan Kepala Badan Pariwisata Daerah (Baparda) DIY itu.

Ditulis dalam Kebudayaan | Leave a Comment »

Rasa Sayange

Ditulis oleh erik12127 di/pada 26 Desember, 2007

Beberapa waktu lalu media massa kita sempat menghebohkan lagu Rasa Sayange yang diadopsi Malaysia untuk kepentingan promosi pariwisatanya. Tentu saja mayoritas kita bangsa Indonesia langsung berteriak dan memprotesnya.

Lagu Rasa Sayange adalah lagu daerah yang berasal dari Maluku, Indonesia. Lagu ini merupakan lagu daerah yang selalu dinyanyikan secara turun-temurun sejak dahulu sebagai lagu pergaulan, baik di antara masyarakat Maluku, sebagai asal dari lagu ini, juga hampir di seantero Indonesia.

Jika didengarkan, lagu ini layaknya berbalas pantun yang bersahutan, sehingga memiliki banyak versi. Lirik lagu pergaulan ini biasanyu secara spontanitas, sesuai maksud dan tujuan pantun. Sejak Oktober 2007 lagu ini digunakan oleh Departemen Pariwisata Malaysia untuk mempromosikan kepariwisataan negeri Jiran itu. Sementara itu Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor mengatakan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu kepulauan Nusantara (Malay archipelago).

Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu berusaha untuk mengumpulkan bukti otentik bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu rakyat Maluku, untuk disampaikan pada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Gubernur bersikeras lagu Rasa Sayange adalah milik Indonesia, karena merupakan lagu rakyat yang telah membudaya di Maluku sejak leluhur, sehingga klaim Malaysia itu dianggapnya hanya mengada-ada.

Menteri Pariwisata Malaysia Adnan Tengku Mansor menyatakan bahwa rakyat Indonesia tidak bisa membuktikan bahwa lagu Rasa Sayange merupakan lagu rakyat Indonesia. Kini bukti tersebut telah ditemukan. Rasa Sayange diketahui direkam pertama kali di Lokananta, Solo, Indonesia, pada 1958.

Ini bukan kejadian yang pertama kali. Sebelumnya Malaysia sudah mematenkan motif batik parang asli Yogyakarta. Selain itu, untuk kepentingan pariwisatanya Malaysia juga sudah mematenkan sate, jamu dan layang-layang. Tidak tanggung-tanggung Malaysia memberangkatkan astronotnya dengan tema Batik in Space.

Untuk menghindari tindakan saling mengklaim karya budaya, inventarisasi warisan budaya pun kini menjadi keharusan. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Andi Matallata, pun menandatangani nota kesepahaman Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Kekayaan Intelektual Ekspresi Budaya Warisan Tradisional Milik Bangsa Indonesia.

Dengan nota tersebut, maka dimulailah inventarisasi warisan budaya secara resmi, agar negara lain tidak mengklaim warisan budaya Indonesia. Semenjak krisis ekonomi yang melanda Indonesia, Malaysia kerap menganggap rendah bangsa Indonesia, antara lain dengan memanggil warga Indonesia dengan sebutan yang melecehkan Indon, merazia warga Indonesia, mematenkan budaya Indonesia.

Over Acting
Kondisi ekonomi Malaysia yang kini relatif lebih baik ketimbang kita, membuat mereka cenderung over acting. Mereka kerap kali memiliki persepsi bahwa semua orang Indonesia sama dengan para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang membantu di rumah-rumah mereka. Selain itu Malaysia sangat ambisi untuk mencoba mengambil alih pimpinan Asean dari tangan Indonesia.

Sebetulnya rakyat Malaysia memiliki minder kompleks terhadap Indonesia, perasaan rendah diri, layak seorang adik terhadap kakaknya. Generasi muda Malaysia sangat akrab dengan Peterpan, Sheila On Seven, Ungu, Raja, Krisdayanti dan banyak artis-artis Indonesia lainnya.Mereka memuja para artis kita. Radio-radio Malaysia selalu memutar lagu-lagu Indonesia. Demikian juga televisinya, penuh dengan sinetron Indonesia. Temu fans dengan artis Indonesia di Malaysia selalu penuh sesak.

Saat ini Malaysia juga sangat dipusingkan dengan keberadaan 3 juta warga negara Indonesia di Malaysia. Ini adalah angka yang sangat besar dan sangat memengaruhi politik, ekonomi, sosial, budaya dan keamanan Malaysia. Padahal, awalnya ratusan ribu hingga jutaan TKI sengaja dimasukkan ke Malaysia untuk memenangkan UMNO-parpol terbesar di Malaysia. Mereka benci tapi rindu kepada para TKI. Maklum tanpa TKI, Malaysia lumpuh. TKI menguasai hampir semua bidang pekerjaan di Malaysia. Mulai dari perkebunan, pembantu rumah tangga hingga pekerja konstruksi.

Pada awal 2005, Malaysia pernah memulangkan TKI secara besar-besaran lantaran jiran kita itu bersengketa soal Blok Ambalat. Namun, jutaan TKI itu kemudian dipanggil lagi-baik secara legal maupun illegal-karena Malaysia sedang panen kelapa sawit, dan tidak ada yang bekerja di ladang-ladang mereka. Namun secara politik dan demokratisasi, Malaysia jauh ketinggalan dibanding Indonesia. Coba perhatikan, koran-koran di Malaysia, nyaris tak ada berita ‘miring’ soal pemerintahnya. Yang ada cuma berita keberhasilan ekonomi mereka, dan berita kriminal-yang celakanya, didominasi oleh para Indon.

Demokrasi, merupakan kata yang paling ditakuti pemerintah Malaysia. Mereka berusaha keras agar demokrasi yang terjadi di Indonesia tidak pernah menulari Malaysia. Itulah salah satu sebab mengapa koran-koran Malaysia hampir setiap hari gemar memuat berita-berita negatif berbau reformasi yang terjadi di Indonesia. Salah satunya agar rakyatnya takut untuk memulai demokrasi.

Faktanya memang pemberitaan kita di Indonesia, kritik-kritik pedas kepada pemerintah atau pemimpin negara merupakan hal yang kini sangat lumrah. Berita-berita seperti itu, di satu sisi secara gamblang menggambarkan betapa kebebasan pers di Indonesia sudah jauh lebih maju, tapi di sisi lain memperkental citra buruk Indonesia di mata masyarakat Malaysia.

Walau demikian desakan demokratisasi di Malaysia tampaknya tidak akan bisa terbendung lagi. Cepat atau lambat, hal itu pasti melanda rakyat Malaysia. Keberhasilan Indonesia melakukan demokratisasi kini sudah diakui dunia. Kita berhasil mendobrak dominasi Orde Baru yang berkuasa hampir seperempat abad. Sedangkan Malaysia sejak berpuluh tahun masih belum bisa lepas-dan seolah tak berniat lepas-dari dominasi UMNO. Malaysia seperti tak melihat alternatif untuk memilih pemimpin dari partai lain, yang mungkin bisa membawa negara itu ke kejayaan baru.

Sejak kejatuhan Soeharto, Indonesia sudah memiliki empat presiden baru, yakni BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Megawati Sokarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Yang patut digarisbawahi dari pergantian presiden di Indonesia itu, adalah bangsa ini tetap tegar. Indonesia memang sempat terpuruk hingga ke titik paling rendah, tapi bisa bangkit kembali.

Malaysia? Saya tak terlalu yakin mereka bisa melakukan demokratisasi sebaik Indonesia. Malaysia, saya kira tak akan setegar Indonesia dalam menghadapi krisis yang hampir meruntuhkan bangsa.

Ditulis dalam Kebudayaan | Leave a Comment »