*) Indonesia Ungguli Juara 4 Tahun Berturut Turut
JAKARTA – Prestasi demi prestasi berhasil ditorehkan anak bangsa di level internasional. Teranyar, tim robot Indonesia meraih juara 1 dan menggondol medali emas pada The 2009 International Robogames yang dihelat di Fort Mason, San Fransisco, Amerika Serikat pada Minggu (14/6) lalu.
Tim robot Indonesia dari Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung itu terdiri dari Rodi Hartono dan Stevanus Akbar Alexander (mahasiswa), Yusrilla Y Kerlooza (dosen pembinbing), Aelina Surya (Pembantu rektor III), Ratna Ariawati Joedakoesumah (Pembantu rektor I), dan Eril Mozef (dewan juri nasional KRCI).
Rombongan tim merah putih tiba di bandara Soekarno Hatta pukul 13.10. Kedatangan pahlawan teknologi itu disambut meraih oleh Depdiknas maupun rektor Unikom Eddy Soeryanto Soegoto bersama rombongannya. Dirjen Dikti Fasli Jalal juga memberi sambutan khusus. Fasli mengalungkan untaian bunga terhadap para juara.
Wajah lelah tim Indonesia terlihat jelas. Maklum, mereka baru saja menempuh perjalanan panjang, sekitar 20 jam. “Capek di pesawat,” ucap Rodi Hartono, mahasiswa Unikom yang juga anggota tim itu. Kendati demikian, begitu mendapat sambutan meriah dari Depdiknas, senyum lepas langsung terlihat.
Menurut Fasli Jalal, prestasi itu dinilai amat membanggakan. Sebab, sejak kompetisi itu dihelat pada 2004 silam, baru tahun ini Indonesia berhasil menngondol medali emas. Padahal, peserta kompetisi itu cukup banyak. Yaitu, melibatkan 25 negara.
Fasli mengatakan, tahun ini Dikti bersama Unikom memang serius mempersiapkan tim Indonesia. “Berbagai dukungan maupun fasilitas kami berikan,” ujarnya.
Atas prestasi itu, Dikti akan memberi beasiswa terhadap mahasiswa Unikom untuk melanjutkan studinya. Mereka bebas melanjutkan studi hingga S3 di perguruan tinggi manapun. “Mereka juga boleh memilih belajar ke universitas luar negeri,” terangnya.
Fasli menjelaskan, saat ini Dikti aktif mendorong PTN maupun PTS di Indonesia untuk mengembangkan robotika. Hal itu tak lepas dari animo kompetisi robot di Indonesia yang semakin tinggi.
Robogames sendiri merupakan salah satu ajang kontes robot internasional tahunan terbesar. Kontes itu melombakan lebih dari 70 kategori. Dengan jumlah pertandingan yang cukup banyak, ajang tersebut mendapat predikat World?s Largest Robot Competition dari Guiness Book of Records.
Dari sekian banyak kategori itu, Indonesia mengikuti kategori open fire fighting robot contest. Yang merupakan salah satu kategori tersulit lantaran robot harus bersifat autonomous atau bergerak dan mengambil keputusan sendiri tanpa intervensi manusia. “Dan tidak dikendalikan dengan remote seperti kategori lainnya,” terang mahasiswa kelahiran 1987 itu.
Untuk kategori itu, cerita Rodi, robot harus mampu mencari dan memadamkan api (yang disimulasikan oleh api lilin di dalam sebuah rumah). Rumah itu terdiri dari empat ruang. Yaitu, lorong, pintu, anak tangga, perabotan rumah tangga. Penilaian ditentukan oleh kecepatan robot dalam mencari dan memadamkan api tanpa menyentuh dinding dan tanpa dikendalikan manusia.
Rodi menjelaskan, kinerja robot yang diberi nama DU-114 boleh dibilang cukup mengejutkan lawan-lawannya. DU-114 sendiri diambil dari nama Dupati Ukur 114 Bandung, alamat Unikom.
Penampilan DU-114 mampu memukau penonton. Betapa tidak, sejak pertama kali running test (uji coba arena dan lingkungan) pada 13 Juni lalu, DU-114 berhasil menjalankan tugasnya dengan sempurna kendati tanpa setting awal. Ujicoba itu membuat kagum lawan maupun panitia kontes.
Tak heran, saat lomba DU-114 mampu meraup nilai sempurna!. Dari tiga trial (ronde) yang dipertandingkan, tim Indonesia tidak sekalipun gagal. Dari 11 peserta hanya 4 peserta yang mampu melakukan itu. Hebatnya lagi, tim robot Indonesialah yang satu-satunya mampu mengambil semua bonus yang ada.
Termasuk melalui mode tersulit dengan menaiki tangga. Juga mampu melewati rintangan seperti sorotan cahaya matahari maupun suara berisik penonton. Tak urung, tim Indonesia akhirnya bisa mengalahkan tim dari University of Akron yang disponsori oleh organisasi paling bergengsi dibidang elektronika, yaitu IEEE. Tim tersebut merupakan juara bertahan selama empat tahun berturut-turut.
Tim Robot Indonesia juga menyertakan robot kategori berkaki NEXT-116. Walaupun hanya berada di peringkat kelima, tetapi NEXT-116 menjadi satu-satunya robot berkaki yang diperbolehkan panitia untuk bertanding melawan robot-robot lain yang menggunakan roda. Robot ini selain cepat, juga mampu menaiki anak tangga dan hampir mengalahkan lawan-lawannya yang menggunakan roda.
Dari bandara Soekarno Hatta, tim robot Indonesia langsung mendapat sambutan Mendiknas Bambang Sudibyo di Depdiknas. Mendiknas mendorong intensitas kejuaraan terkait teknologi robotika. Pemerintah, kata Mendiknas, berkomitmen mendukung agenda kontes nasional robot yang digelar setiap tahun.
“Saya sangat berkomitmen betul dengan permasalahan teknologi robotika dan mendorong kejuaraan seperti itu,” ujarnya. Mendiknas mengatakan, banyak sekali anak-anak muda Indonesia bisa mengukir prestasi dunia.
Menurut Mendiknas, ajang kegiatan adu prestasi seperti kontes robot perlu konsisten dilakukan. “Saya mengusulkan kepada Presiden agar memberikan Anugerah Satya Lancana Wirakarya. Anugerah itu hanya diberikan oleh Presiden kepada anak bangsa yang meraih prestasi dunia,” katanya.
Mendiknas menyampaikan, pada 2008 lalu, Presiden menganugerahkan sebanyak 117 Satya Lancana Wirakarya di bidang matematika, sains, teknolog, seni, dan olah raga.







Saluang adalah
Bentuknya Pendek dan memiliki 7 lubang dan dapat memainkan lagu-lagu tradisional maupun modern karena memiliki nada standar. Setelah tahu bentuknya lalu saya coba untuk belajar bansi terlebih dahulu karena mudah, saya bawakan musik bansi yang ada dalam tari pasambahan, dan lumayan mudah. Untuk saluang, sampai saat ini masih belajar dengan keras karena saya anggap orang yang mahir di saluang berarti untuk alat musik tiuplainnya pasti mudah.
Talempong adalah sebuah
Tabuik berbentuk bangunan bertingkat tiga terbuat dari kayu, rotan, dan bambu dengan tinggi mencapai 10 meter dan berat sekitar 500 kilogram. Bagian bawah Tabuik berbentuk badan seekor kuda besar bersayap lebar dan berkepala “wanita” cantik berjilbab. Kuda gemuk itu dibuat dari rotan dan bambu dengan dilapisi kain beludru halus warna hitam dan pada empat kakinya terdapat gambar kalajengking menghadap ke atas. Kuda tersebut merupakan simbol kendaraan Bouraq yang dalam cerita zaman dulu adalah kendaraan yang memiliki kemampuan terbang secepat kilat. Pada bagian tengah Tabuik berbentuk gapura petak yang ukurannya makin ke atas makin besar dengan dibalut kain beludru dan kertas hias aneka warna yang ditempelkan dengan motif ukiran khas Minangkabau. Di bagian bawah dan atas gapura ditancapkan “bungo salapan” (delapan bunga) berbentuk payung dengan dasar kertas warna bermotif ukiran atau batik. Pada bagian puncak Tabuik berbentuk payung besar dibalut kain beludru dan kertas hias yang juga bermotif ukiran. Di atas payung ditancapkan patung burung merpati putih. Di kaki Tabuik terdapat empat kayu balok bersilang dengan panjang masing-masing balok sekitar 10 meter. Balok-balok itu digunakan untuk menggotong dan “menghoyak” Tabuik yang dilakukan sekitar 50 orang dewasa. Tabuik dibuat oleh dua kelompok masyarakat Pariaman, yakni kelompok Pasar dan kelompok Subarang. Tabuik dibuat di rumah Tabuik secara bersama-sama dengan melibatkan para ahli budaya dengan biaya mencapai puluhan juta rupiah untuk satu Tabuik.