Target 2008, Indonesia Bebas Flu Burung
10 Mei, 2008
Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan (Depkes) RI, dr Lily S Sulistyowati, MM, dalam siaran persnya, Depkes telah berusaha sedapat mungkin memperkecil jumlah warga yang tertular virus flu burung yang ditularkan dari unggas ke manusia. Berkat bantuan Pemerintah Daerah, korban flu burung menurun jumlahnya. Namun, menurutnya, kunci pencegahan penyebaran virus flu burung dari hewan ke manusia adalah di tangan individu sendiri. Kesadaran untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta memisahkan unggas dari permukiman belum sepenuhnya dilakukan masyarakat. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Bayu, meskipun sebagian besar masyarakat sudah tahu bahaya flu burung, namun masih sedikit yang berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan pengendaliannya.
Padahal, Dr drh Chairul A Nidom MS, dari Universitas Airlangga (Unair) seperti dilansir Antara, Rabu (12/12), mengingatkan, Indonesia bisa menjadi pandemik (sumber wabah penyakit) flu burung di dunia. Dengan tingkat kematiannya yang tinggi, Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia. Sedangkan Vietnam yang jumlah penderita meninggalnya 46 orang meduduki peringkat kedua di dunia.
Menurut Chairul, untuk mencegah Indonesia menjadi pandemik flu burung maka pemerintah harus melaksanakan langkah mendasar. Langkah tersebut antara lain; adanya kerja sama antara Depkes dan Disnak (Dinas Peternakan), yang selama ini saling menyalahkan. Selain itu, manajemen unggas yang serius. Pemotongan unggas dipusatkan pada RPH (Rumah Pemotongan Hewan), tidak seperti sekarang ini yang memungkinkan unggas dipotong di pasar. “Manajemen unggas seperti itu harus mendapat subsidi dari pemerintah karena masyarakat atau pedagang ayam tidak mungkin mampu membayar pemotongan di RPH, sehingga harga jual unggas di pasar akan tetap,” katanya. Semua unggas di kota dan di desa harus dalam kandang, untuk ini mungkin diperlukan subsidi kandang.
Ada beberapa hal yang bisa dijadikan “warning” untuk tahun 2008 terkait flu burung. Menurut Bayu, jumlah kasus flu burung inkonklusif (kasus yang tidak jelas faktor penularannya) selama 2007 lebih banyak terjadi ketimbang tahun 2006. Tahun 2006, kasus inkonklusif hanya 20-25 persen, sedangkan tahun 2007 adalah 25-30 persen. Hal ini merupakan tantangan baru yang perlu diantisipasi pada tahun 2008. Hal lain yang perlu dicatat, kejadian infeksi virus Avian Influenza (AI) H5N1 pada unggas selama 2007 lebih sporadik. Penularannya meluas. Pada tahun 2006, kasus flu burung pada unggas hanya terjadi di 241 kabupaten/kota, tapi pada 2007 daerah endemis flu burung pada unggas bertambah menjadi 268 kabupaten/kota.
Terkait virus flu burung sendiri, menurut Chairul, ada lima genotip yakni A, B, C, C’ dan D. Lima genotip tersebut ditemukan dari kajiannya sejak tahun 2003 sampai kini terhadap 241 virus AI di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Indonesia Timur. Tahun 2003, mulai ada genotip A di Jawa Tengah. Tahun 2004, ada genotip A di Samarinda dan genotip B di Sumatera serta genotip C di Jawa. Tahun 2005, mulai ada genotip C di Jawa dan Sumatera Utara. Genotip C’ merupakan pengembangan dari genotip C, sedangkan genotip D adalah pertemuan genotip A, C, dan C’. Genotip D mulai ada tahun 2006 di Papua dan Sumatera Selatan. Genotip C, C’ dan D cukup mendominasi pada tahun 2007. Munculnya varian genotip virus AI ini salah satu hal yang menyulitkan pengobatan, karena ketika suatu vaksin untuk suatu jenis genotip ditemukan ternyata telah muncul jenis genotip lain.
Untuk tahun 2008, Komnas PFBI dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza akan menyelenggarakan simulasi besar untuk mengujicoba Rencana Kesiapsiagaan Pandemi Influenza Republik Indonesia. Simulasi ini akan diselenggarakan di Bali. Untuk itu, Komnas PFBI telah membentuk tim perumus renana kesiapsiagaan menghadapi pandemik yang akan menjelaskan peran semua pihak, termasuk dunia swasta dan kelompok masyarakat serta media massa. Simulasi dalam skala kecil telah dilakukan di Provinsi Jawa Barat dan Banten pada tahun 2007. Menurut Bayu, hanya 41 persen dari seluruh negara di dunia ini yang telah melaksanakan simulasi berskala besar. Target lain untuk tahun 2008, menurut Bayu, adalah melanjutkan proses komunikasi pada masyarakat dengan mengintensifkan sasaran pada para ibu rumah tangga sebagai kelompok strategis.
Meskipun tidak ada yang berharap pandemik flu burung benar-benar terjadi, tapi menurut Dr Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), DTM&H, MARS, simulasi untuk menghadapi situasi itu perlu dilakukan. Karena, jika pandemik nantinya sungguh terjadi maka tingkat interaksi antarmansuia akan diminimalisasi.
Selama ini virus H5N1 memang baru menular dari unggas ke manusia, tapi harus diantisipasi jika mutasi virus yang terjadi menyebabkan penularan antarmanusia. Bila hal ini terjadi, menurut Tjandra, mulai dari sekolah sampai perkantoran akan ditutup untuk menekan penularan. “Namun, yang sering dilupakan bagaimana alur informasi mengenai pengumuman sekolah atau kantor kalau memang ditutup. Contohnya, jika sekolah ditutup siapa yang berkewajiban menunggu di sekolah untuk menerima pemberitahuan itu dan bagaimana pengumuman yang efisien harus dilakukan. Kelihatannya sederhan, tapi harus ada kerangka yang jelas ketika kelak harus dihadapi,” kata anggota Komnas PFBI ini pada Jurnal Nasional beberapa waktu lalu.
Menurut situs resmi Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia, ikabisurgeon.com, penangglangan flu burung di Indonesia hingga tahun 2008 diperkiarakan menelan dana Rp9 triliun, Rp7,5 triliun untuk pengendalian penyebaran flu burung, sisanya untuk penanganan unggas dan pasien yang terkena virus H5N1. Dana tersebut bersumber dari APBN dan lembaga donor dari luar negeri. Menurut Bayu, sejumlah negara bertekad membantu dana sekitar US$400 juta untuk mengatasi flu burung di dunia termasuk di Indonesia.
Meski sebagian orang pesimistis tentang target pemerintah tahun 2008 Indonesia bebas flu burung, namun bila masyarakat berperan aktif membebaskan diri dan keluarga serta lingkungan sosialnya dari virus ini dengan melaksanakan hidup sehat maka tak mustahil target tersebut bisa dicapai. Apa lagi kini Tropical Diseases Center (TDC) Unair punya laboratorium AI berskala internasional hibah dari pemerintah Jepang. Ditambah laboratorium lain di Tanah Air seperti di Lembaga Eijkman atau lembaga yang di Makassar.
Entry Filed under: Kesehatan. .

Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed