Jasa Lingkungan Hidup

10 Mei, 2008

Bagi pemerintah barangkali ekonomi dan politik merupakan persoalan terbesar bagi bangsa ini. Itu tercermin dari berbagai kebijakan termasuk dalam pengelolaan anggaran secara nasional. Tetapi bagi sebagian orang persoalan lingkungan hidup tampaknya lebih nyata, lebih konkrit dan kerusakannya bisa sangat luar biasa terutama untuk masa depan kita. Kita akan mendiskusikan persoalan-persoalan lingkungan hidup terutama mengatasi dan memperbaiki krisis ini dengan Prof. Dr. H. Endang Sukara, Deputi bidang ilmu pengetahuan hayati di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Endang Sukara mengatakan lingkungan hidup baik flora, fauna, mikro organisme, dan barangkali virus juga, serta segala macam isinya itu sungguh mempunyai manfaat yang luar biasa untuk hidup dan kehidupan umat manusia. Karena itu jasa-jasa lingkungan hidup terhadap kehidupan manusia penting dipahami untuk memperbaiki krisis lingkungan.

Menurut Endang Sukara, jasa-jasa lingkungan tersebut harus dimanfaatkan dengan menjadikan tiga unsur pembangunan menjadi satu, yaitu membangun ekonomi, membangun sosialnya dengan masyarakat dilibatkan dalam semua proses dan juga mendapat keuntungan dampak ekonomi dari sana, dan membangun lingkungan hidup. Kalau salah satunya saja, misalnya lingkungan hidup seperti hanya untuk proteksi-proteksi, maka itu tidak ada maknanya.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Endang Sukara.

Dalam konteks otonomi daerah, pemerintah daerah (Pemda) harus menyampaikan kepada masyarakat bahwa lingkungan harus dijaga. Beberapa waktu yang lalu saya mendengar sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) ingin menyewa lahan hutan yang oleh pemerintah akan disewakan kepada swasta. Itu hanya untuk menjaga lahan hutan agar tidak dirusak. Apakah langkah ini efektif?

Menurut saya kurang efektif. Selama ini yang dilakukan oleh pemerintah dan bangsa kita selama bertahun-tahun setelah merdeka hanya berbasis kepada proteksi, proteksi, dan proteksi. Misalnya, membangun cagar alam, mendirikan taman nasional, tapi tidak ada tautannya dengan pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial. Jadi masih kepada lingkungan hidup semata-mata. Itu tidak bisa juga. Tidak akan efektif. Bangsa dan seluruh masyarakat Indonesia harus ikut serta. Dalam hal ini ada suatu konsep yang dikembangkan oleh United Nations Educational, Scientic and Cultural Organization (UNESCO) yaitu Man and the Biosphere (MAB). Kebetulan saya menjadi ketua dari program MAB UNESCO untuk Indonesia.

Apa itu program MAB?

Di dalam program itu konsepnya bukan lagi mengembangkan taman nasional, tapi namanya cagar biosfir. Ini sudah diakui oleh 115 negara di dunia dan sekarang sudah direpresentasikan di lebih dari 500 situs. Di dalam konsep cagar biosfir, pertama kita memang harus punya daerah atau kawasan yang dilindungi oleh undang-undang (UU). Mungkin itu sifatnya taman nasional, hutan lindung, cagar alam, atau apapun namanya. Namun itu saja tidak cukup. Kita harus mempunyai kawasan lain yang disebut buffer zone yang harus dibuat di tempat lain. Dalam pembuatan buffer zone pemerintah daerah harus bekerjasama dengan kepala-kepala taman nasional atau pengelola cagar alam, dan sebagainya. Nah di dalam buffer zone itu tidak mustahil kalau Pemda dan rakyatnya membangun kebun raya, misalnya. Tapi kebun raya itu menjadi tempat untuk menyimpan seluruh flora yang pernah diketahui ada di dalam taman nasional terutama flora yang mempunyai ekonomi tinggi.

Apa contohnya?

Misalnya, gaharu, atau bibit durian, atau bibit duku yang bagus dan ada di tempat itu. Jadi tergantung di mana lokasi kawasan yang dilindungi itu berada. Di Siberut, misalnya, saya melihat ada semacam jenis rambutan yang mungkin belum pernah ada orang yang mengetahuinya. Itu enaknya luar biasa. Kemudian di daerah buffer zone itu benih tersebut ditanam dan dibangun kebun raya sebagai pusat konservasi di situ, di luar lahan dari aslinya. Jadi, orang bisa segera melakukan penelitian yang cermat dan dahsyat di sana.

Ini memerlukan satu kemauan pemerintah yang betul-betul punya komitmen terhadap persoalan lingkungan. Apakah Anda melihat pemerintah sekarang mempunyai komitmen terhadap lingkungan dan lebih baik dari pemerintah yang sebelumnya?

Ini pertanyaan yang sulit, tapi saya melihat pemahaman pengetahuan tentang arti pentingnya lingkungan untuk pembangunan ekonomi itu belum ada. Saya lanjutkan tentang cagar biosfir. Ketika kita melakukan penelitian kajian, misalnya, satu jenis pohon filum yang baru dan telah diteliti oleh LIPI kemarin mempunyai senyawa aktif yang bisa dipakai sebagai bahan baku obat-obatan untuk anti kanker, misalnya. Itu pasti akan menjadi bisnis multi milyaran dolar kalau kita mau melakukannya. Untuk anti kolesterol saja seperti Lipitor yang dibuat perusahaan besar di AS beromzet US$ 19 milyar. Jadi jangan main-main. Di kawasan Siberut, selain buah-buahan ada semacam Calamus Draco yang menghasilkan buah merah seperti jenang, rotan. Marketnya luar biasa seperti untuk ke Cina. Maksud saya, kalau itu sudah diteliti lantas manfaatkan segera mungkin dengan membuat perkebunan-perkebunan. Perkebunan yang ada di Indonesia sekarang didominasi oleh tanaman introduksi bukan asli Indonesia, sehingga kompetisi kita juga lemah.

Saya kira persoalan lingkungan bukan hanya persoalan di Indonesia saja. Pemerintah negara besar pun merasa ini juga menjadi tanggung jawab mereka. Dengan pertemuan besar di Bali tahun lalu. Apa bahaya terbesar secara global terhadap negara-negara terutama negara miskin dari kerusakan lingkungan yang akan bisa kita rasakan setiap hari?

Saya kira lingkungan yang rusak mempunyai dampak yang luar biasa besarnya pada kehidupan kita semua. Pertama, kehidupan kita menjadi tak nyaman. Kedua, kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan oleh bangsa kita juga menjadi terbatas. Misalnya, dengan kondisi air sungai yang begitu buruknya pasti perusahaan daerah air minum (PDAM) akan mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk mengolah air sungai menjadi air minum. Coba kalau sungainya itu jernih.

Di China Barat ada program Bio Carpet Project. Tidak ada satu hari dari seluruh penduduk yang tidak menanam rumput. Walaupun sulit untuk ditanami rumput, mereka ada teknologi khusus. Jadi mereka menanam rumput semuanya. Rumput itu kemudian dikaitkan dengan industri peternakan modern. Selain mereka bisa mengurangi proses erosi dan pelumpuran terhadap sungai Kuning di sana, rumput itu diolah menjadi pakan ternak. Sekarang di Cina yang ikut industri peternakan modern ada 100 juta orang. Bayangkan.

Mengapa China bisa melakukan itu?

Nah itu, komitmen dan juga kepedulian dari pemerintah, termasuk pemahaman dari masyarakat. Kalau masyarakat tidak paham, tidak jelas dampaknya bagi ekonomi dan nilai sosial mereka maka itu akan sulit. Karena itu sekarang tiga unsur pembangunan harus benar-benar menjadi satu, yaitu dalam membangun ekonomi, harus juga membangun sosialnya dengan masyarakat dilibatkan dalam semua proses dan juga mendapat keuntungan dampak ekonomi dari sana, dan satu lagi harus membangun lingkungan hidup. Kalau salah satunya saja, misalnya lingkungan hidup, seperti tadi disewa hanya untuk proteksi-proteksi, maka itu tidak ada maknanya.

Saya kira kerusakan lingkungan juga sudah sedemikian berat di Indonesia termasuk pembabatan hutan sehingga jutaan hektar sudah gundul. Saya kira mengembalikan itu membutuhkan waktu dan juga terkait kebutuhan pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk mencari lahan mengembangkan bisnis di beberapa sektor pertanian dengan memanfaatkan lahan hutan. Bagaimana cara untuk mengembalikan lagi hutan yang dahulu sudah gundul itu?

Apapun caranya harus mulai dari sekarang. Dalam hal ini perlu dibuat program-program konkrit yang masyarakat mau ikut berpartisipasi. Salah satu contoh di Kalimantan Barat, di sana banyak sekali sumber buah Tengkawang. Jadi setiap orang yang menikah di Kalimantan Barat wajib menanam 200 pohon Tengkawang. Kalau pohon Tengkawang sudah berusia 25 - 30 tahun boleh ditebang oleh orang itu. Kalau satu pohon itu harganya sekarang US$ 400, berarti 200 pohon senilai US$ 80.000. Pada masa depan, setiap anak usia 25 - 30 tahun di Kalimantan Barat mempunyai simpanan seperti asuransi tanpa premi Rp 720 juta kalau tinggi pohon Tengkawang itu satu meter persegi. Padahal pohon Tengkawang bisa mencapai 3m2 berarti bisa mencapai Rp 2,1 miliar. Masak sih bangsa Indonesia tidak mau begitu. Tentu sebelum Tengkawang itu bisa dipanen di bawahnya bisa ditanam komoditi yang produktif seperti kedelai atau jagung dulu atau kalau lahannya itu milik orang lain, maka hasilnya bisa bagi dua dengan yang punya lahan. Sekarang ujung tombak memang di otonomi daerah, bisa atau tidak menggerakkan hal tersebut. Kalau tidak mampu meyakinkan masyarakat di kabupaten tentang program ini maka di kecamatan atau satu desa dulu. Kalau di satu desa juga tidak mampu untuk meyakinkan masyarakat tentang program ini, maka coba di satu kampung dulu. Jadi di Kalimantan Barat dengan Tengkawang, misalnya. Sedangkan di Sulawesi bisa menanam Eboni dan itu nilainya lebih mahal lagi. Di NTT bisa menanam Cendana yang kita sudah tahu sangat tinggi nilainya. Saya dengan teman-teman LIPI sudah membuat satu-dua hektar di Flores untuk perkebunan Cendana.

Ada dua menteri yang mengurusi soal lingkungan hidup, yaitu menteri negara lingkungan hidup dan menteri kehutanan. Saya kira keduanya yang paling bertanggung jawab. Sejak zaman kemerdekaan, saya merasa hutan bukannya makin baik tapi kok makin tergerus, makin habis. Anggaran pemerintah yang demikian besar bukan untuk melindungi lingkungan hidup tetapi justru malah seperti menghambur-hamburkan uang. Apa pendapat Anda?

Saya melihat justru karena sektoral itu maka kita menjadi sangat terpuruk seperti ini. Pembangunan itu seharusnya dilakukan secara horizontal. Masing-masing departemen, sektor, maupun universitas, lembaga riset, dan komponen bangsa ini semuanya harus berdiri pada posisinya masing-masing untuk bisa memberikan kontribusi. Saya berikan contoh atau ilustrasi yang telah dilakukan Thaksin Shinawatra sewaktu menjadi Perdana Menteri Thailand dengan Ratu Sirikit. Mereka memberikan informasi pada masyarakat global bahwa negaranya ingin menjadi dapur dunia pada 2010. Sejak itu mereka melakukan pendekatan horizontal. Misalnya, menyediakan benih durian walaupun duriannya asal Indonesia sebanyak satu juta benih durian dan dibagikan kepada masyarakat. Dinas pekerjaan umumnya (PU) membuat irigasi, membuat jalan yang bagus. Kemudian pemerintah daerahnya (Pemda) membuat pusat sortasi. Universitas dan departemen pertanian menyediakan benih yang bagus. Hanya dalam waktu empat tahun sejak program itu diluncurkan, mereka menjadi raja durian dunia yang terkenal. Sekarang beras dari Thailand, sayuran dari Thailand, buah-buahan dari Thailand. Begitu merebaknya kehebatan mereka di sektor pertanian. Padahal tanah di Thailand adalah vulkanik, sedangkan tanah yang lebih subur ada di Indonesia, cahaya matahari yang lebih berlimpah itu ada di Indonesia. Jadi kita bisa membangun ekonomi tanpa harus memerlukan modal yang besar. Modalnya hanya sumber daya manusia (SDM) yang kita miliki. Tapi bukan hanya Departemen Kehutanan atau Lingkungan Hidup, dalam hal ini menteri perdagangan, menteri dalam negeri, para gubernur, dan bupati juga harus ikut campur. Selain itu, universitas dan lembaga riset termasuk LIPI juga harus turut mengisi. Apa yang dikerjakan bangsa ini harusnya pendekatan horizontal karena tidak ada satu departemen atau sektor atau universitas yang bisa mengerti seluruhnya.

Persoalan lingkungan adalah persoalan yang tidak pernah berhenti, menguras tenaga dan menuntut perhatian yang lebih dari persoalan-persoalan lain. Kalau setiap tahun ada sekitar 10 juta hektar hutan dihabisi, maka bisa dibayangkan setiap hari ada ribuan hektar hutan. Kita seperti berlomba dengan kehancuran masa depan. Nah komitmen terhadap lingkungan dimana Indonesia dianggap sebagai jantung dunia hutan tropis turut menjadi perhatian dunia. Apa yang Anda bisa sampaikan?

Kita harus mulai dari sekarang juga. Kita harus menyadari bumi ini hanya satu dan masalah global climate change sudah bersama kita. Kita banyak yang tidak tahu bahwa dulu Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan bersatu selama 600 tahun, namun perlahan tapi pasti terendam air sehingga kawasan itu menjadi dangkalan Sunda dan akhirnya terpisah menjadi pulau-pulau itu. Jika pemanasan global dibiarkan terus maka suhu akan terus naik, sehingga dapat dipastikan banyak pulau hilang dan Jakarta juga bakal terendam. Kemana kita harus lari? Padahal daerah kawasan semakin sempit, dan penyakit akan banyak muncul akibat pemanasan global. Malaria akan booming, kita juga akan mengalami TBC yang sangat akut di masa mendatang. Jadi tidak ada pilihan lain bagi bangsa ini kecuali memperbaiki lingkungan sekaligus membangun ekonomi dan sosial yang tangguh, seperti tadi saya ungkapkan yaitu mengembangkan program penghijauan. Apakah bisa atau tidak program penanaman pohon tersebut ditautkan dengan program untuk mensejahterakan bangsa Indonesia? Kalau tidak bisa dengan satu termin masa pemerintahan, maka bisa selama 25 tahun untuk menjadi visi kita jangka panjang. Jadi sekarang segera lakukan penghijauan tapi kita tautkan dengan program sosial yang lebih tangguh dan kesejahteraan ekonomi.

Yang dituduh sebagai penyebab kerusakan lingkungan adalah mereka yang bergerak di sektor industri terutama industri yang mencemari lingkungan. Sering menjadi berita dimana-mana bahwa perusahaan multinasional yang melakukan eksplorasi mengabaikan lingkungan. Begitu juga yang mengembangkan sektor pertanian yang memanfaatkan lahan hutan. Apa kira-kira komitmen yang semestinya mereka lakukan agar ekonomi tumbuh tapi lingkungan tidak hancur?

Saya kira kita semua harus sadar ilmu pengetahuan harus menjadi tulang punggung di sana. Saya yakin kalau kita tidak menjual bahan mentah tapi diproses dulu dengan paripurna maka tidak mencemari lingkungan. Misalnya, serpihan kayu dibuat nano material atau nano fiber. Di Kyoto, Jepang, ada dua staf LIPI bekerja di sana untuk serat kayu dibuat nano fiber. Sekarang mereka bisa membuat material baru dan itu sebening kaca, se-elastis plastik, sekuat baja, dan kekuatannya lima atau enam kali lebih kuat dari baja. Dia sudah membuktikan bahwa ternyata komponen itu mempunyai sifat sama dengan LCD. Dia sudah digaet oleh Mitsubishi untuk membuat LCD yang fleksibel. Dalam tiga tahun ke depan kita mungkin akan melihat flexible screen bukan flat screen. Ilmu pengetahuan harus menjadi soko guru. Kita harus berpacu memberikan nuansa yang keras untuk pentingnya ilmu pengetahuan sehingga semua bisa diolah dengan cermat, cerdas, menghilangkan limbah. Selama industri tidak bersandarkan pada science, kita akan selamanya membeli bahan baku pada orang lain. Seperti CPO belum diolah menjadi Betakaroten, obat-obatan yang strategis, dan diberi ikatan-ikatan rangkap sehingga minyaknya menjadi lebih bagus dari minyak apapun di dunia. Nah, itu belum ada. Yang menjadi masalah, justru itu sudah dimulai di Singapura. Untuk bioscience saja, Singapura menganggarkan dana US$ 3,7 milyar setahun. Sedangkan Indonesia mungkin cuma Rp 1-3 trilyun, dan dana itu kalah jauh dibandingkan dana untuk iklan.

Tapi menurut orang, sebanyak-banyaknya orang berkumpul tetap saja yang menang Amerika atau Jepang. Katanya kedua negara tersebut tidak setuju terhadap rumusan komitmen yang ada di Bali beberapa waktu lalu dimana mereka tidak mau mengurangi konsumsi energi. Terhadap mereka harus ada sesuatu yang dilakukan untuk mengingatkan bahwa kerusakan tidak pernah berhenti. Nah apa kira-kira hal itu?

Saya kira kita tidak harus menguras tenaga untuk hal itu karena itu memang urusan politik yang harus dijalankan. Menurut saya, di dunia itu ada tiga kelompok negara. Satu, adalah negara yang tidak memiliki sumber daya alam termasuk keanekaragaman hayati dan kekayaan genetik yang akan menjadi tulang punggung pembangunan masa depan dunia, tapi memiliki ilmu sangat tinggi. Mereka direpresentasikan negara seperti Jepang, AS, Eropa, dan mungkin juga Kanada. Mereka jago-jago dalam ilmu pengetahuan meskipun tidak mempunyai sumber daya alam tapi mereka akan leading. Kedua, negara yang tidak mempunyai sumber daya alam atau kekayaan alamnya kurang dan SDM juga rendah. Ini mungkin seperti di negara-negara Afrika tropis. Sedangkan ketiga, seperti bangsa ini yang luar biasa kekayaan dan keanekaragaman hayati, sumber daya alam berlimpah termasuk juga sumber daya genetik, tapi ilmu kita rendah. Kalau kita bisa berangkat dari sekarang dan berniat untuk membangun SDM yang handal, maka SDM yang sekolah di luar negeri disuruh kembali lagi seperti di Pakistan. Dia berani menggaji empat kali lebih besar gaji menterinya bagi seorang scientist yang mau pulang ke Pakistan. Jika meniru itu maka Indonesia akan maju. Karena itu Indonesia akan didongkrak ke atas menjadi negara yang kaya sumber daya alam tapi juga mempunyai ilmu pengetahuan yang mumpuni. Jadi apakah sekarang kita bisa atau tidak memberikan apresiasi pada scientist, pada orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan di Indonesia? Kalau gaji dan anggarannya disamakan dengan anggaran kecamatan dan sistem pengelolaannya disamakan maka akan susah. Tapi kalau dia disuruh bekerja di pusat penelitian atau riset dan mendapat uang memadai dan ada audit penggunaan uang tersebut dan yang dihasilkannya maka itu mungkin menarik.

Jangan-jangan kita bekerja terus untuk memperbaiki lingkungan hidup tapi sebenarnya juga bekerja untuk Amerika yang menyedot, menguras dan menghancurkan lingkungan hidup.

Saya tidak berkata begitu karena bisa atau tidak kita untuk pandai-pandai membawa diri karena ada mutual agreement dan sebagainya. Itu juga sudah diatur dalam konvensi-konvensi yang jelas. Jadi itu harus dilaksanakan sesuai kepentingan kita dan kalau menjadi delegasi RI kemanapun juga, kita harus dibekali itu sehingga kita juga membawa nama bangsa ini. Kadang-kadang kita datang sebagai delegasi RI juga lonely, apa benar keputusan yang diambil itu? Sekarang kita juga duduk di komisi bio ethics international di bawah panji UNESCO atau cagar biosfir seperti tadi, lalu bagaimana komitmen kita terhadap itu? Kita sudah mendeklarasikan ada enam cagar biosfir tapi satupun belum ada yang dikelola mempunyai buffer zone transisi, belum ada pemerintah daerah yang membantu. Jadi yang ditugasi hanya kepala taman nasional yang hanya melindungi kawasan yang dilindungi UU tapi manfaatnya belum jelas. Menurut saya, sekarang ini waktunya bagi kita dan tidak usah menunggu-nunggu lagi untuk memperbaiki lingkungan hidup, membangun ekonomi, melibatkan masyarakat. Juga industri yang mengambil bahan-bahan baku harus mengolah dengan paripurna, olah dengan menggunakan ilmu modern sehingga tidak merusak lingkungan.

Entry Filed under: Lingkungan. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Erikson Lumban Gaol

Pengunjung

Kategori

Arsip

Meta

My Comment

SSS di Numb – Linkin Park
dila di Sabun Transparan dari Minyak…
sasmiku di Cara Mengoperasikan Blog by Er…
arif di Alat Musik Tradisional Ac…
nude di UGM Perkenalkan Asap Cair Peng…

Spam Blocked

Blogroll

Taut