Ekonomi Indonesia 2008: Dibayangi Melonjaknya Harga Minyak

10 Mei, 2008

Pulihnya tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak kwartal kedua 2007 membawa harapan bahwa perekonomian akan segera kembali ke tingkat sebelum krisisi. Pertumbuhan ekonomi tiga triwulan terakhir yang di atas 6 persen pada tiga kwartal terakhir diharapkan terus berlanjut hingga 2008.

Optimisme membaiknya perekonomian membuat pemerintah cukup percaya diri akan pencapaian target pertumbuhan ekonomi 6,8 persen. Betapa tidak, akhir tahun 2007 saja target pertumbuhan yang dipatok 6,3 persen diperkirakan akan terlampaui mengingat hingga kwartal ketiga target tersebut telah tercapai.

Namun, sejumlah pandangan yang lebih pesimis menilai pemerintah terlalu optimis dengan target di 2008. Pasalnya, selain sektor riil yang dinilai belum berjalan sebagaimana mestinya, sejumlah tantangan eksternal dipandang dapat mengancam perekonomian Indonesia.

Kinerja pertumbuhan ekonomi di 2007 yang cukup baik memang belum bisa diartikan bahwa Indonesia telah kembali ke masa sebelum krisis. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi tersebut masih didorong oleh sektor konsumsi, bukan oleh investasi yang efeknya memang berdampak lebih baik terhadap perekonomian.

Membaiknya daya beli masyarakat setelah sempat anjlok setelah kenaikan harga BBM akhir 2005 lalu memang menjadi pendorong utama pertumbuhan di 2007. Sedangkan investasi, meski sudah membaik dibanding 2006 yang hanya tumbuh 2,9 persen masih jauh dari yang diharapkan. Target pertumbuhan investasi 12 persen yang dipatok di awal tahun diperkirakan hanya akan tumbuh di bawah 10 persen pada akhir tahun.

Dari sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi di 2007 ternyata juga banyak disebabkan oleh nasib baik dengan sejumlah upaya dari pemerintah yang pengaruhnya masih bisa diperdebatkan. Pertumbuhan 2007 utamanya ditopang oleh pertumbuhan sektor pertanian, terutama produksi beras, memang terutama tertolong oleh kondisi cuaca yang ramah dengan pendeknya musim kemarau.

Kondisi tersebut berbeda jauh dengan kondisi 2006 sebelumnya dimana musim hujan datang terlambat yang berdampak pada singkatnya musim tanam. Tantangannya adalah seberapa ramah kondisi cuaca di 2008? Hal tersebut akan cukup berpengaruh pada tingkat pertumbuhan ekonomi terutama dari sektor pertanian.

Kinerja ekspor yang membaik di 2007 juga layak dicermati. Pasalnya, pertumbuhan ekspor yang diyakini akan mencapai target 14,5 persen hingga akhir tahun lebih banyak tertolong oleh naiknya harga - harga komoditas di pasar dunia seperti CPO dan Batubara yang turut terdongkrak akibat naiknya harga minyak dunia.

Meski harga - harga komoditas tersebut diperkirakan tetap tinggi di 2008 yang berarti positif untuk pertumbuhan ekspor Indonesia, tingginya harga minyak dunia juga akan berdampak negatif bagi kinerja ekspor Indonesia di luar komoditas tersebut. Harga minyak yang memicu perlambatan ekonomi dunia dipastikan juga berdampak terhadap permintaan ekspor Indonesia.

Di sisi lain, tingginya harga minyak perlu diwaspadai, sebab akan membebani neraca pembayaran Indonesia dari adanya peningkatan impor BBM. Selain karena faktor harga, pertumbuhan ekonomi juga pasti turut meningkatkan konsumsi BBM. Belum lagi, potensi penyeludupan yang meningkat akibat disparitas harga dari subsidi yang diberikan di dalam negeri.

Sedangkan sisi belanja pemerintah, sepanjang 2007 masih belum tampak meyakinkan. Selain penyerapan anggaran yang masih terus rendah, pemerintah juga terpaksa menurunkan belanjanya hingga Rp11,2 triliun, dari Rp763,6 triliun dalam APBN P 2007 menjadi Rp752,4 triliun akibat melesetnya target penerimaan pajak.

Terakhir, sekitar Rp75,23 triliun atau 10 persen dari pagu belanja pemerintah dalam APBN P 2007 diperkirakan tidak terserap dan terancam hangus. Pasalnya, Departemen Keuangan tidak akan membayar anggaran milik satuan kerja (satker) yang tidak selesai hingga 31 Desember 2007.

Di 2008, meski dari sisi besaran jumlahnya meningkat, penyerapan belanja masih menjadi tantangan bagi pemerintah. Sejauh ini belum ada upaya signifikan yang diupayakan untuk meningkatkan kinerja belanja tersebut. Pemerintah memang telah mendorong bahkan menjanjikan sejumlah insentif bagi daerah untuk mempercepat penyusunan APBD nya, namun efektivitasnya masih harus dilihat di 2008.

Tantangan Eksternal

Sejauh ini, pengaruh dalam negeri memang masih cukup terkendali terhadap perekonomian di 2008. Namun, pengaruh eksternal terutama dengan tingginya harga minyak bumi dan perlambatan ekonomi global dapat mengancam pertumbuhan ekonomi Indonesia secara langsung.

Tingginya harga minyak dunia yang terjadi sejak dua bulan lalu memang cukup mengancam ketahanan anggaran pemerintah. Meski sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani selalu menegaskan kenaikan harga minyak akan berdampak positif terhadap APBN dengan kisaran surplus Rp0,3 - 0,5 triliun setiap kenaikan US $10 per barel. Namun, dalam perhitungan terakhir menunjukkan defisit bisa membengkak hingga 3 persen dari PDB di 2008.

Dalam sembilan langkah pengamanan yang direncanakan, upaya penurunan konsumsi BBM bersubsidi menjadi suatu upaya yang sangat kritis dilakukan. Meski belum ditetapkan mekanismenya, rencana pemerintah menggantikan premium dengan pertamax di wilayah Jabotabek dikhawatirkan akan memberi tekanan yang cukup besar.

Sedangkan perlambatan ekonomi global yang diprediksi oleh hampir seluruh dunia pada 2008 juga pasti berdampak terhadap kinerja ekspor Indonesia yang selama ini menjadi pendorong utama pertumbuhan. Meski pemerintah optimistis bahwa perekonomian China dan India yang masih cukup kuat mampu menyerap pertumbuhan ekspor di 2008, hal tersebut harus dibuktikan terlebih dahulu.

Faktor eksternal lainnya yang layak diwaspadai adalah tren naiknya harga komoditas pangan dunia. Pertumbuhan produksi pangan yang cukup tinggi sekalipun di Indonesia bahkan tidak akan menghindarkan Indonesia dari pengaruh tersebut, terbukti dengan kenaikan harga CPO dunia yang telah mendongkrak harga penjualan minyak goreng domestik.

Di tengah sejumlah hambatan eksternal dan belum mantapnya kondisi dalam negeri, memang tidak tertutup kemungkinan pertumbuhan ekonomi di 2008 masih cukup tinggi. Bahkan sejumlah prediksi pesimis pun memperkirakan Indonesia masih bisa tumbuh di level 6,0 persen di 2008.

Namun, tantangan sebenarnya bagi perekonomian Indonesia bukanlah pada angka makro ekonomi seperti pertumbuhan, inflasi, atau nilai tukar. Tantangan perekonomian ke depan adalah bagaimana menggerakkan sektor riil untuk dapat mengatasi persoalan utama bangsa ini, yakni kemiskinan dan pengangguran. 2008 merupakan tahun yang kritis bagi pengurangan kemiskinan dan pengangguran.

Pasalnya, tahun 2008 dipandang sebagai tahun terakhir pemerintah mampu fokus untuk melaksanakan kebijakan sebelum persiapan Pemilu di 2009. Untuk itu, telah ditetapkan target yang optimistis untuk penurunan jumlah penduduk miskin dan angka pengangguran pada 2008 masing - masing sekitar 15 persen dan 8 persen. Sebelumnya, persentase penduduk miskin dan pengangguran pada 2007 adalah sebesar 16,58 persen dan 9,75 persen.

Entry Filed under: Ekonomi. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Erikson Lumban Gaol

Pengunjung

Kategori

Arsip

Meta

My Comment

SSS di Numb – Linkin Park
dila di Sabun Transparan dari Minyak…
sasmiku di Cara Mengoperasikan Blog by Er…
arif di Alat Musik Tradisional Ac…
nude di UGM Perkenalkan Asap Cair Peng…

Spam Blocked

Blogroll

Taut