Erik Lumban Gaol Website

Membaca Tidak Berkomentar Menyebabkan RABIES —> CP : 081392952822

Arsip untuk September 21st, 2007

APA SEBENARNYA AGAMA YESUS.

Ditulis oleh erik12127 di/pada 21 September, 2007

Ketika beragama Katolik, Lasiman bernama babtis Willibrordus, ditambah nama baptis penguatan (kader) Romanus. Jadilah ia dikenal sebagai Willibrordus Romanus Lasiman. Lasiman atau akrab dipanggil Pak Willi. Kegelisahan demi kegelisahan menyerang keyakinannya. Akhirnya ia pun berkelana dari Katolik ke Kristen Baptis, lalu pindah ke Kebatinan Pangestu (Ngestu Tunggil), mendalami kitab Sasongko Jati, Sabdo Kudus, dan lainnya. Ia juga terjun ke perdukunan dan menguasai berbagai kitab primbon dan ajian. Tujuannya satu, mencari dan menemukan kebenaran hakiki.
Ketika bertugas sebagai misionaris di Garut, Allah mempertemukannya dengan prof Dr Anwar Musaddad, berdiskusi tentang agama. Diskusi inilah yang menuntunnya pada Islam. Allah memberikan hidayah ketika ia berusia 25 tahun. Lalu, Willi pulang ke Yogya dan berdiskusi dengan Drs Muhammad Daim dari UGM. Akhirnya, 15 April 1980, Willi berikrar dua kalimat syahadat, masuk dalam dekapan Islam dengan nama Wahid Rasyid Lasiman. Sejak itu, Willi tekun mengkaji Islam di pesantren. Dari pesantren inilah, Ia menjadi ustadz yang rajin berdakwah dari kampung ke kampung di Sleman, Yogyakarta, hingga pelosok kampung di kaki Gunung Merapi.

Jadi, apa agama Yesus? pertanyaan ini sering menjadi bahan diskusi yang hangat dan menarik. Jika dijawab Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat manusia, maka dia tak perlu agama dan tak beragama. Maka, pernyataan ini bisa dipahami bahwa Yesus tak beragama, artinya Yesus itu ateis.

Menurut Yossy Rorimpadel, dari Sekolah Tinggi Teologi “Apostolos”, Yesus itu beragama Yahudi. Lalu, mengapa pengikutnya tak beragama Yahudi?Jika Yesus beragama Katolik, mana dalilnya? kapan Yesus memproklamirkan dirinya beragama Katolik? Jika dinyatakan, Yesus beragama Kristen Protestan, lebih tidak masuk akal lagi, Sebab, Protestan lahir pada abad ke-16, saat bergulirnya pergerakan Reformasi gereja yang dimotori oleh Martin Luther dan John Calvin.Pendeta Yosias Leindert Lengkong dalam buku Bila Mereka Mengatakan Yesus Bukan Tuhan menyebutkan, istilah “Kristen” muncul di Antiokhia pada 41 Masehi.

Dan, yang mengucapkan kata “Kristen” atau “Kristianos” bukan murid Yesus atau orang terpercaya, tapi justru orang-orang luar (hlm.77). Pendapat ini cukup beralasan, karena dalam Alkitab, Yesus tak pernah bersinggungan dengan kata “Kristen”. Kata ini, muncul pertama kali di Antiokhia setelah Yesus tidak ada. (Lihat Kisah Para Rasul 11:26).

Jelaslah, Yesus tak beragama Kristen, baik Katolik maupun Protestan. Riwayat penyebutan “Kristen” tidak mempunyai asal-usul dan persetujuan dari Yesus. Label dan penamaan Kristen diberikan pada pengikut (agama) Yesus, setelah bertahun-tahun Yesus tidak ada. Dalam al-Qur’an disebutkan, satu-satunya agama yang diridhai Allah hanyalah ISlam (QS Ali Imran: 19,85,102). Karenanya, semua Nabi beragama Islam dan pengikutnya disebut muslim (QS Ali Imran:84).

 Islam telah diajarkan oleh paran Nabi terdahulu (QS al-Hajj:78). karena Isa Almasih adalah Nabi Allah, maka dia dan pengikutnya (Hawariyyun) pun beragama Islam (QS al-Maidah:111, Ali Imran :52). Semua Nabi beragama dan berakidah sama, yakni Islam. Perbedaan mereka hanya pada syariatnya (QS al-Hajj:67-68). Rasulullah saw bersabda: “Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa putra Maryam di dunia dan akhirat. Dan semua Nabi itu bersaudara karena seketurunan, ibunya berlainan sedang agamanya satu (ummahatuhum syattaa wa dinuhum wahid),” (HR Bukhari dari Abu Hurairah ra).

 Islam tak mengklaim sebagai agama baru yang dibawa Nabi muhammad ke Jazirah Arabia, melainkan sebagai pengungkapan kembali dalam bentuknya yang terakhir dari agama Allah SWT yang sesungguhnya, sebagaimana ia telah diturunkan pada Adam dan Nabi-nabi berikutnya. Satu-satunya kitab suci di dunia yang mengungkapkan agama Yesus, hanya al-Qur’an. Al-Qur’an menyebutkan, Nabi Isa sebagai Muslim, sedangkan Bibel tidak menyebutkan Yesus beragama Kristen atau Yahudi.

Ditulis dalam Ilmiah | 4 Komentar »

Mempertebal Iman Melalui Perbedaan Agama

Ditulis oleh erik12127 di/pada 21 September, 2007

 Salah satu persoalan agama yang banyak diperdebatkan di Indonesia hingga saat ini adalah pluralisme. Penentangnya, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganggap teologi pluralis berbahaya bagi landasan-landasan teologis Islam, karena ia menolak klaim bahwa agamanya sendiri yang benar dan agama lain salah. Fatwa MUI tahun 2005 yang ingin menghapus teologi pluralistik, memperingatkan komunitas muslim mengenai bahaya teologi pluralis. Fatwa yang ditujukan untuk meredam kontroversi itu, justru semakin memanaskan suasa.

Adian Husaini dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), menyajikan pandangan lain yang menolak teologi pluralis. DDI percaya bahwa teologi pluralis akan membuat komunitas Muslim condong pada relativisme agama yang abai terhadap Islam. Bila ini terjadi kaum Muslim mudah berkonversi ke agama lain atau setidak-tidaknya tak keberatan dengan praktik agama yang dianggap berbau musyrik seperti doa bersama atau merayakan hari-hari suci agama lain.

Pluralitas agama adalah kenyataan tak terelakan dalam kehidupan manusia. Meski menyadari adanya keanekaragaman agama, para pendiri agama dan para mufasirnya pada umumnya memberi keterangan baik dan buruk mengenai agama lain berdasarkan hubungan mereka pada saat tertentu, dan tak jarang mengambil sumber informasi dari tangan kedua. Kisah-kisah tentang interaksi ini biasanya terdokumentasi hanya beberapa tahun setelah tradisi oral dan bisa berubah-ubah. Dalam kitab suci, kisah-kisah mengenai interaksi negatif dengan kelompok agama yang berbeda dapat dengan mudah disalahtafsirkan atau dilihat sebagai sabda anti-pluralisme.

Kini, di zaman modern, semua paradigma tersebut harus diubah. Mobilitas manusia yang tinggi telah mengkondisikan manusia dalam perkawanan dengan aneka pemeluk agama baik dalam bidang pendidikan maupun bisnis. Di kota-kota besar dunia, komunitas multi budaya merupakan hal biasa. Di sisi lain, dengan kemudahan tehnologi informasi dan komunikasi, umat manusia memiliki kesempatan untuk mengenal pemeluk agama lain secara lebih dekat melalui penelitian yang bersemangat empatik dan dialog antar agama.

Bagi Paul F. Knitter, teolog Katolik dari Amerika, aneka ajaran agama dan cara ibadah yang berbeda merupakan modal untuk dialog guna saling memperkaya pengalaman keberagamaan. Setiap agama akan mempertahankan keunikannya, dan memperdalamnya melalui pertemuan dengan agama lain. Untuk mewujudkan semua itu diperlukan perubahan terhadap beberapa sikap keagamaan yang lama. Contohnya, dalam konteks Kristen, Jesus tetaplah Tuhan (divine) dan penyelamat dunia, tetapi ia bukanlah satu-satunya Tuhan (divine) dan penyelamat (savior), karena Tuhan juga hidup di komunitas-komuntas lain.

Begitu pula terhadap kaum Muslim. Seorang Muslim tidak boleh menganggap wahyu al-Quran yang diberikan kepada Nabi Muhammad sebagai wahyu yang telah memuat semua kebenaran dari Tuhan, karena hal ini adalah mustahil: Manusia adalah perantara yang terbatas, sedangkan Tuhan adalah wujud tak terbatas. Di luar al-Quran ada wahyu-wahyu lain. Pesan wahyu al-Quran, Bibel, Weda ditujukan untuk semua umat manusia, bukan semata-mata untuk pemeluknya demi menciptakan kemakmuran dan perdamaian umat manusia. Dengan kata lain, tujuannya bukanlah sekedar mencari pengikut sebanyak-banyaknya sebagaimana yang telah berlangsung berabad-abad. Biarlah masalah konversi lebih merupakan masalah yang terkait dengan pengalaman pribadi, yang tentu dipengaruhi oleh waktu sosial, budaya, dan ekonomi. Kita tak boleh melarang orang yang keluar dari sebuah agama, jika itu memang pilihannya.

Menurut John Hick, seorang teolog dan filosof agama dari Inggris, teologi pluralis berusaha memahami bahwa aneka agama merupakan respon dan persepsi atas penampakkan Tuhan pada bermacam kelompok manusia melalui cara yang berbeda-beda. Teologi pluralis ingin mengubah pandangan keberagamaan yang semula berpusat pada tradisi sendiri beralih ke Tuhan yang merupakan sumber semua agama.

Kita tidak boleh menilai agama dari tradisi kita, tetapi berdasarkan ketuhanan yang universal. Namun demikian, masing-masing pemeluk tetap harus berpegang pada tradisinya masing-masing. Apa yang diubah adalah sudut pandang terhadap agama lain. Teologi pluralis tidak bermaksud melemahkan keimanan terhadap sebuah agama, tetapi justru memperkokohnya.

Dengan keanekaragaman agama, Tuhan telah menunjukkan pada kita bahwa Dia tidak pilih kasih dalam memberikan rahmatnya. Teologi pluralis ditawarkan untuk menghilangkan diskriminasi antar umat manusia dalam bentuk anggapan diri sebagai anak pilihan Tuhan yang berhak mendapat kewenangan khusus untuk membimbing manusia menuju jalan Tuhan, menentukan yang baik dan buruk , yang boleh dan tak boleh. Dalam konteks seperti ini, setiap pemeluk agama memiliki peluang untuk mendapat keselamatan dan masuk surga. Maka, teologi pluralis sama sekali tidak terkait dengan upaya konspirasi sebagaimana yang diusung kelompok tertentu, seperti DDII, yang menganggap adanya sebuah usaha untuk menguasai pemeluk agama yang mereka anut.

Ditulis dalam Ilmiah | Leave a Comment »